MAGGIE : Sesuatu itu Memang Sudah Seharusnya Begitu





Ada yang berubah dari Maggie. Ayah dan Ibu sudah menyadarinya jadi, mereka sepakat untuk bersama-sama berkunjung ke kamar Maggie di suatu malam, setelah makan malam.  


Tok…tok…tok…

Pintu kamar bercat baby pink itu diketuk, Maggie yang sedang duduk di kursi belajarnya menoleh dan mempersilahkan Ayah dan Ibunya masuk. 


Ibu dan Ayah bersenda gurau di depan Maggie sambil pelan-pelan berusaha mengorek informasi dari putri mereka tanpa ada kesan menuntut, takut Maggie jadi ragu bercerita pada Ayah dan Ibunya. 


Dengan hati-hati dan penuh kelembutan, Ibu mulai bertanya pada Maggie apa yang sedang Ia inginkan saat ini. Barangkali Maggie sedang menginginkan boneka baru, Ibu mengajak Maggie mengunjungi toko boneka esok sore.


Namun, dengan penuh keyakinan, Maggie berkata Ia tidak sedang menginginkan apapun saat ini, termasuk boneka baru. Ibu agak kaget, sebab sebelumnya, Maggie dan boneka tidak bisa dipisahkan. Maggie sangat suka boneka. 


Sudah menjadi agenda rutin di setiap awal bulan, untuk membeli boneka baru untuk Maggie. Sampai-sampai boneka miliknya punya ruangan khusus di rumah mereka, tapi sekarang, Maggie sudah tak menginginkan boneka lagi. 


Ibu mencoba memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang ada, hingga pikirannya sampai pada Maggie yang tengah jatuh cinta. Itu bukannya tidak mungkin. Maggie sudah 11 tahun sekarang. Ibu masih ingat jelas, kapan dirinya dulu memulai cinta monyetnya pada Ayah Maggie. Itu tepat saat usianya 11 tahun!!


Ibu melamun, sibuk dengan pikirannya sendiri. Sementara Ayah dan Maggie yang tak tahu isi pikiran Ibu hanya bisa memperhatikan ekspresi wajahnya, yang tidak bisa dikatakan baik. 


Ayah mencoba mengabaikan Ibu, dan mulai bertanya apa yang sering Maggie lakukan akhir-akhir ini. Ayah juga mengungkapkan kerinduannya pada Maggienya yang lucu dan cerewet, sebab akhir-akhir ini Maggie terlihat sibuk sendiri, tidak lagi bertanya apapun kepada Ayah. 


Maggie yang baru sadar, kalau sudah melupakan Ayah dan Ibunya akhir-akhir ini pun, kebingungan untuk menjawab. Kalau dipikir pun, Maggie rasa, tidak ada apapun. Tidak ada hal yang begitu spesial sampai Ia harus melupakan Ayah dan Ibunya. Yah, kecuali buku tebal miliknya, pemberian Oma Eva. 


Sebenarnya, buku pemberian Oma Eva itu hanya dibaca Maggie tujuh halaman saja dan itu sudah beberapa hari yang lalu, sekarang Ia tak membacanya lagi sama sekali. Namun, ternyata efek membaca tujuh halaman itu sangatlah besar. 


Akhir-akhir ini pun, Maggie bukannya disibukkan dengan kegiatan bermain bonekanya ataupun membaca buku. Maggie sibuk dengan pikirannya sendiri. Jadi, ketika Ibu menanyakan apa yang sedang Ia inginkan dan Ayah bertanya kegiatan apa yang tengah dirinya sukai. Maggie kebingungan untuk menjawab. Karena, kegiatan yang selama ini Ia lakukan hanya bertanya-tanya dalam pikirannya sendiri. 


Maggie sibuk dengan pikirannya, yang mulai meragukan eksistensi dirinya sendiri dan juga eksistensi dunia. Dirinya, yang terbiasa hanya menanyakan kenapa kelinci harus makan, kenapa Ia harus membersihkan kamarnya setiap hari, kenapa Ia harus mandi dua kali sehari. Mulai mempertanyakan eksistensi dirinya, sebagai manusia. Kenapa Ia bisa hidup di dunia ini? Untuk apa dia hidup di dunia ini? Kenapa dunia bisa tercipta, untuk apa?


Maggie rasa, kemampuannya mempertanyakan segala hal di sekelilingnya seolah dibatasi selama ini. Dengan bodoh, Ia hanya mempertanyakan hal-hal sepele yang akan ditertawakan para orang dewasa. Namun, sama sekali tidak terlintas di benaknya, untuk mempertanyakan eksistensi dunia dan seisinya. Seolah dunia dan semua di dalamnya memang sudah seharusnya ada dan para manusia hanya perlu menerimanya tanpa tanya, karena memang sudah begitu seharusnya. 


Namun, fakta tersebut sangat sukar diterima Maggie. Jadi, selama beberapa hari ini, Ia sibuk dengan pemikirannya sendiri. Yang selalu dan akan berujung pada tanya kembali. Mengapa pertanyaan sederhana seperti bagaimana dunia bisa terbentuk saja begitu sulit untuk dijawab. 


Jadi, sekarang Maggie memutuskan untuk bertanya semua hal yang membuatnya resah selama ini, pada orang tuanya. Berharap akan mendapat jawaban yang memuaskan, Maggie menunggu dengan sabar. Sampai akhirnya, Maggie mendapat jawaban dari Ibu dan Ayahnya. Namun, Maggie agak tak puas karena jawaban dari orang tuanya masih abu-abu, menurut Maggie. 


Malam itu, Ayah dan Ibu keluar dari kamarnya setelah mengalihkan percakapan mereka dengan topik, sebuah wahana baru di pasar malam yang tengah disenangi banyak orang. Lalu Maggie pun, kembali tidur dengan setumpuk pertanyaan di kepalanya. 























Maggie's previous story:

Komentar

  1. Menjadi dewasa tidak serta-merta membuat manusia lebih mampu menjawab hal-hal sederhana. Karena menjadi dewasa, justru tidak jarang membuat manusia melupakan hal-hal yang kerap ia lakukan semasa muda.

    Dewasa semestinya membuat lebih mawas diri. Paham akan keberadaan diri di dunia, serta mampu memberi pemahaman yang utuh atas hal itu kepada orang lain, terutama anak dan cucu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sepakat, kak. dewasa bukan hanya ditandai dengan bertambahnya umur tapi juga bertambahnya wawasan serta ilmu. agar menjadi bekal untuk diajarkan kepada anak dan cucu.

      Hapus
  2. Masa kanak-kanak memang masa yang penuh dengan keingin tahuan, sebaiknya orang tua bisa lebih bijak saat menjelaskan pada anak-anaknya, agar tidak menjadi kesalahan dalam memberikan informasi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. itulah salah satu tantangan menjadi orang tua.

      Hapus
  3. Setiap pertanyaan, ada jawaban.
    Namun tidak semua pertanyaan mesti dijawab hitam atau putih. Adakalanya berlalunya waktu, jawaban itu akan ditemukan langsung oleh Maggie.

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul sekali, setiap pertanyaan pasti ada jawabannya. barangkali Maggie belum bisa menemukan jawabannya sekarang, tapi bisa jadi 10 sampai 20 tahun lagi, Maggie sendiri yang akan menemukan jawabannya.

      Hapus
  4. Seiring dengan bertambahnya usia, pertanyaan-pertanyaan yang terasa sulit dan membingungkan, akan ditenukan jawabannya

    BalasHapus
  5. Pelajaran penting. Sebagai anak yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi pada apapun, juga sangat memerlukan jawaban yang masuk akal bagi seorang anak. Dalam artian, menjelaskan jawaban disesuaikan dengan tingkat pemahaman seorang anak. semakin dini, anak-anak mendapatkan jawaban dari rasa ingin tahu akan memantik rasa ingin tahu pada apapun secara terus-menerus.

    BalasHapus
  6. Saya setiap hari bertemu anak serupa Maggie, bingung sekali mau menjawab agar tidak melahirkan pertanyaan baru yang semakin beranak pinak. Doh.

    BalasHapus
  7. Wow maggie sedewasa itu diusianya, ini kepo yang baik kah?

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ali and Nino: Symbols of Tragic and Undestined Love

Fenomena Hikikomori : Definisi sampai Cara Mengatasinya

Mengulik Lebih Dalam Karakter Rama : Tokoh Figuran di Novel PULANG Karya Leila S. Chudori