Mengulik Lebih Dalam Karakter Rama : Tokoh Figuran di Novel PULANG Karya Leila S. Chudori

Ketika membaca sebuah buku novel ataupun cerpen, kita pasti akan menemukan sosok karakter tambahan alias figuran, yang kemunculannya hanya beberapa kali dalam sebuah plot cerita. Dan di sini, saya akan mengulik lebih dalam seorang karakter figuran yang kehadirannya, barangkali tak dihiraukan para pembaca lain. Namun, begitu setia hadir dalam ingatan saya. 




Beberapa waktu belakangan ini, tepatnya pada awal bulan April, dikabarkan terjadi cuaca panas ekstrim. Gelombang panas melanda beberapa negara Asia. Beberapa laman artikel populer yang menyajikan informasi peristiwa darurat tersebut pun tak luput saya baca. Di tengah suhu udara yang kian panas dan membuat tubuh resah karena gerah, saya memilih mengalihkan fokus sepenuhnya pada kegiatan maraton membaca saya. 


Buku fiksi sejarah karya penulis luar biasa, Leila S. Chudori dengan judul buku PULANG, menemani saya melewati hari-hari yang panas dan kering. Dalam kegiatan membaca yang saya lakukan rutin setiap hari, biasanya saya hanya akan membaca paling sedikit 3 halaman buku dan yang paling banyak 20-40 halaman buku, yang saya baca. Namun, untuk buku PULANG ini, saya hanya menghabiskan waktu lebih dari satu hari dan kurang dari dua hari untuk membaca semua halaman bukunya. 


Barangkali, buku berjudul PULANG ini memiliki efek magis, ajaib atau ketagihan yang membuat pembaca ingin terus menerus membacanya, menyeruput halaman tiap halaman dengan kilat sampai tandas, saya tak tahu. 


Terpesona oleh isian buku yang berbobot membawa saya menelusuri halaman tiap halaman yang akhirnya, mengundang saya bersongsong dengan satu bab di halaman 343 yang memunculkan tokoh bernama Rama Dahana Suryo. Sang tokoh figuran. 


Rama Dahana Suryo, digambarkan sebagai lelaki yang tumbuh dengan sikap minder dan ketakutan karena keluarganya yang selalu "merunduk" dan hidup di luar radar. Rama, menjalani hari-harinya dengan penuh ketegangan dan paranoia. Rama Dahana Suryo yang selalu mengasingkan diri dari lingkungan keluarga, membuatnya memiliki hubungan yang cukup kompleks dengan anggota keluarganya sendiri, terutama dengan sang ayah, Aji Suryo. 


Rama Dahana Suryo, digambarkan memiliki temperamen yang bisa dikatakan buruk, karena sifatnya yang cenderung mudah marah, mengeluh dan menyalahkan orang lain atas ketidaksempurnaan dan ketidaknormalan hidupnya. 


Saya sendiri, alih-alih mencecar Rama karena keangkuhannya, saya justru merasa itu hal yang wajar. Bukan karena saya menyukai, mendukung ataupun setuju dengan sikap Rama yang problematik. Bukan pula karena terpesona sosok Rama yang digambarkan sebagai lelaki rupawan yang cerdas menghadapi angka. Bukan. 


Menurut saya, Rama ini memiliki semacam inner child. Inner child sendiri diketahui sebagai kepribadian seseorang yang dihasilkan dari pengalaman masa kanak-kanak. Masalah-masalah dan kejanggalan yang terjadi di masa kanak-kanaknya tak bisa terselesaikan, yang maka dari itu, terbawa hingga dewasa, yang menyebabkan matinya moral seorang Rama Dahana Suryo. 


Konflik alot yang terjadi bertahun-tahun akibat ulah Rama itu benar-benar sukar meluak. Hingga peristiwa makan malam yang terjadi, mengubah seluruh jalan hidup sekaligus menyadarkannya. Rama dibawa kembali pada kenyataan yang sebenarnya, tentang dirinya, siapa dia dan siapa keluarganya. Dan bahwa, Ia tak dalam posisi untuk "bersembunyi" lagi. 


Saya cukup puas dengan pengembangan karakter sosok Rama ini, walaupun tidak dijelaskan secara detail dan kemunculan Rama di dalam plot juga tak bisa dikatakan banyak, sebagaimana posisi Rama sendiri, tokoh figuran. Rama sudah benar-benar pulang, pada rumah yang benar-benar rumah. 

 

Komentar