Fenomena Hikikomori : Definisi sampai Cara Mengatasinya


 

Fenomena Hikikomori atau mengasingkan diri dari masyarakat dan lingkungan sekitar yang telah melanda banyak anak muda di negeri matahari terbit, Jepang. Kini telah mulai diperhatikan dan merambah ke beberapa negara, salah satunya adalah Indonesia, bukan hanya di Jepang saja. Hikikomori melabeli orang-orang yang mengisolasi diri dari masyarakat dan lingkungan secara ekstrem. Kali ini, saya akan membawa pembaca mengenal lebih dalam seputar Hikikomori, simak terus ya!!



Definisi Hikikomori


Mengutip dari laman Wikipedia, definisi hikikomori adalah orang yang menolak untuk keluar dari rumah, dan mengisolasi diri mereka dari masyarakat dengan terus menerus berada di dalam rumah untuk satu periode yang melebihi enam bulan. Perilaku mengisolasi diri secara ekstrem ini sudah bukan hal asing lagi di Jepang. Banyak anak muda sekitaran usia 20 tahun yang mengalami Hikikomori di Jepang. Pola yang sering terjadi ini, kemudian, oleh salah seorang Profesor di Jepang bernama Tamaki Saito, disebut sebagai Hikikomori. 



Penyebab Hikikomori


Di suatu fase dalam kehidupan, ada kalanya kita hanya ingin sendirian, merenungkan kesalahan-kesalahan yang telah terjadi, mengenang momen-momen yang sulit terlupakan. Untuk Menenangkan pikiran yang riuh oleh tekanan, juga untuk mengubur rasa rendah diri yang sering sekali mampir, tak kenal lelah dan waktu.



Bila berbicara soal penyebab, tentunya banyak sekali penyebab seseorang mengalami Hikikomori, salah satunya adalah kerasnya gaya dan biaya hidup di Jepang, sangat mempengaruhi terjadinya gejala Hikikomori. Kehidupan di Jepang, yang sangat terstruktur, rapi dan ketat, memacu daya saing antar masyarakat yang tinggi dan sulit pula. Seringkali, para anak muda yang sedang merintis karier, merasa gagal, stress, depresi dan malu, sehingga membuat para anak muda memilih untuk mengasingkan diri tanpa komunikasi apapun dan dengan siapapun, lantaran malu dan takut. 



Persaingan kerja di Jepang yang sangat ketat dan sulit, membuat para anak muda yang sedang merintis karier merasa tak sanggup dan tak siap. Selain karena faktor lingkungan yang keras di Jepang, Hikikomori juga disebabkan oleh tidak adanya figur pembimbing. Yang saya maksud pembimbing di sini luas ya. Tidak hanya orang tua saja (ayah dan ibu). Perlu diingat, selama masih memiliki nurani dan simpati, siapapun bisa menjadi pembimbing, seseorang yang mengarahkan, menemani dan mengajak para penderita Hikikomori untuk belajar pelan-pelan, keluar dari zona isolasi.



Dampak Hikikomori


Meski belum ada bukti kuat bahwa fenomena Hikikomori ini berhubungan dengan gangguan kesehatan mental. Bukan berarti tidak mungkin, para penderita Hikikomori akan mendapat dampak buruk, yang menyebabkan kesehatan mentalnya terganggu. Seperti depresi, skizofrenia, demensia, alzheimer sampai yang terparah ialah keinginan untuk mengakhiri hidupnya sendiri. 



Cara Mengatasi Hikikomori


Sebagai manusia, kita tentu sudah diberi akal, pikiran dan juga hati nurani. Maka, yang bisa kita lakukan untuk kasus Hikikomori adalah memberi arahan, bimbingan, pemahaman dan kehadiran fisik dan batin kita untuk penderita Hikikomori. Tunjukkan kalau sebenarnya, penderita tidak sendirian dalam menjalani kehidupannya yang keras, masih ada harapan dan orang-orang yang peduli padanya. Meski sekecil dan sedikit apapun itu.



Kehadiran seseorang di sisi penderita, akan sangat penting dan berarti bagi para penderita Hikikomori. Selain itu, berkonsultasi dan bertatap muka dengan seorang yang sudah ahlinya, seperti halnya psikolog ataupun psikiater adalah jalan yang sekiranya tepat. Karena, dengan berkonsultasi secara langsung dengan para ahli (psikolog ataupun psikiater), kita akan mengetahui dengan jelas apa yang menjadi pemicu Hikikomori dan juga cara mengatasinya. 









Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ali and Nino: Symbols of Tragic and Undestined Love

Mengulik Lebih Dalam Karakter Rama : Tokoh Figuran di Novel PULANG Karya Leila S. Chudori