Menjelajah FIKSI: Pesan Terakhir Sang Wanita Tua
Maggie Lupita, adalah seorang anak berusia 11 tahun yang selalu memiliki rasa keingintahuan di benaknya. Kenapa kita bisa hidup di dunia ini? untuk apa kita hidup di dunia ini? Bagaimana dunia bisa tercipta? Apakah dunia ini bisa diumpamakan sebagai panggung pertunjukan, dan para manusia di dalamnya adalah bagian di dalam pertunjukan itu? Sementara kehidupan yang kita jalani selama ini, tak lebih dari skenario pertunjukan yang sudah dirancang sang penyusun naskah. Tetapi, bila begitu, siapakah sang penyusun naskah itu? Siapa yang merancang skenario kehidupan kita selama ini?
Banyak hal yang berputar di benaknya. Mulai dari pertanyaan
remeh sampai pertanyaan konyol yang di luar akal sehat manusia. Yang bahkan,
orang tuanya saja kadang kebingungan oleh pertanyaannya sendiri. Biasanya, kalau Maggie
sudah mulai bertanya, orang tuanya akan menjawab berdasarkan rujukan agama yang
mereka percayai, kemudian pertanyaan akan selesai.
Maggie, si anak perempuan menggemaskan itu, takkan
melewatkan satu hari pun tanpa bertanya berbagai hal kepada Ayah dan Ibunya. Namun,
beberapa hari ini, Ayah dan Ibunya tidak menjawab satu pertanyaan pun darinya. Hal
ini membuatnya agak murung. Belakangan, ayah dan ibunya sangat sibuk, karena selain
bekerja, mereka juga diharuskan menjaga Oma Eva, yang kesehatannya tengah
memburuk.
Maggie cemberut sepanjang hari. Padahal anak Oma Eva yang
lain juga datang tapi kenapa harus Ayah dan Ibunya yang paling direpotkan. Suster
pribadi yang khusus untuk menjaga Oma Eva juga ada, kenapa semua anak-anaknya
harus begitu repot, lalu apa gunanya suster? Pertanyaan itu juga pernah sekali
Maggie ungkapkan kepada Ibunya. Namun, yang Ia dapatkan hanya cubitan mematikan
dan pelototan menyeramkan Ibunya. Katanya, sebagai seorang cucu, tak
sepantaskan Ia berpikiran begitu.
Hubungan Maggie dengan Oma Eva memang tidak begitu dekat. Bahkan,
Nenek dan Cucu itu hanya bertemu setahun sekali, saat pergantian tahun. Tak ada
momen special diantara mereka. Membuat hubungan sepasang Nenek dan cucu itu
begitu kaku. Seperti saat ini, Maggie diberi tugas oleh Ibunya untuk menemani
Oma Eva yang sedang menikmati udara sore hari di taman belakang rumah.
Dengan bibir mencurut lucu dan perasaan yang kesal, Maggie
berjalan ke taman belakang rumah dan duduk di salah saatu bangku di sana. Dengan
bosan, Ia memperhatikan Oma Eva yang hanya duduk termenung di kursi rodanya, di
tengah taman. Menggerutu dalam hati, Maggie berpikir, apa gunanya hanya duduk
diam di tengah taman. Jika ingin menenangkan dirikan, masih ada banyak cara,
tak harus dengan merenung dan melamun seperti itu.
Menit-menit berlalu. Tanpa aba-aba, Oma Eva memutar
kepalanya ke samping kanan. Tepat, menghadap Maggie. Karena sudah ketahuan,
Maggie refleks menyengir. Oma Eva tersenyum kecil dan mengisyaratkan Maggie
agar mendekat ke arahnya. Meski sempat ragu-ragu, Maggie akhirnya berjalan,
menghampiri Omanya.
Oma Eva mengarahkan Maggie untuk duduk di kursi, di depannya
lalu menggenggam sebelah tangannya. Oma memandang lurus, tepat di bola matanya.
Maggie duduk dengan kaku di hadapan Omanya. Lima menit berlalu, Oma Eva
akhirnya mulai membuka obrolan.
“Maggie, semoga rasa keingintahuanmu yang besar itu tak
pernah habis dimakan waktu. Tumbuhlah menjadi seorang gadis cerdas yang selalu
haus akan ilmu. Jangan pernah malu untuk bertanya apapun yang kau mau. Mungkin kita
memang tak dekat, tapi Oma selalu menyayangimu.” Kata Oma Eva, mengejutkan.
Maggie yang terkejut mendengar kata-kata Omanya itu pun,
hanya bisa berdiam kaku di atas tempat duduknya, sampai Oma Eva kembali
berkata, “Maggie, boleh Oma minta tolong?” Tanya Oma. Refleks, Maggie
menganggukkan kepalanya beberapa kali, membuat Oma Eva semakin melengkungkan
garis senyum di bibirnya yang sudah keriput itu.
“Besok, sekitar jam 06.00 pagi. Tolong lihatlah orang tuamu,
apa mereka menangis atau tidak. Jika mereka menangis, sampaikanlah kalau Oma
sudah bahagia dan Oma selalu menyayangi mereka. Kalau mereka tidak menangis,
tolong usap pungung tangan mereka dan katakanlah kalau semua akan baik-baik
saja.” Kata Oma lagi, sembari tersenyum. Maggie bingung, jadi Ia hanya menjawab
iya untuk permintaan Omanya, dan begitulah, percakapan sore itu pun berakhir.
Maggie selalu memiliki banyak pertanyaan di pikirannya. Semua hal ganjil yang terjadi di depannya, takkan luput Ia pertanyakan. Selama ini, Ia selalu mendapat jawaban dari semua pertanyaannya. Namun, Maggie rasa, Ia takkan pernah mendapat jawaban atas peristiwa yang terjadi di hadapannya sekarang.
Masih terekam jelas, percakapannya dengan Oma Eva sore kemarin. Tapi sekarang, Oma Eva sudah benar-benar berpulang. Ia meninggalkan dunia pada pukul 06.00 pagi. Entah kebetulan macam apa, Maggie tak mengerti. Namun, dari pada sibuk bertanya-tanya dengan pikirannya sendiri, lebih baik Maggie melakukan permintaan Oma sore kemarin.
Maggie menghampiri kedua orang tuanya yang tengah berpelukan di depan jenazah Oma Eva, sesuai permintaan Oma, Maggie membisikkan kata-kata penuh makna ini kepada orang tuanya. "Ayah, Ibu jangan menangis, Oma sudah bahagia di atas sana, dan jangan khawatir, Oma selalu menyayangi kalian." Bisiknya, di telinga mereka.
Eva kini telah berpulang dan anak-anaknya menangisi kepergiannya. Di mata mereka, Eva dikenang sebagai seorang wanita tangguh yang memperjuangkan kehidupan anak-anaknya. Ibu terhebat untuk anak-anaknya. Selalu. Selamat jalan Eva.

Komentar
Posting Komentar