Menjelajah FIKSI: Wanita Tua Dengan Sekuntum Penyesalan Di Bola Matanya
Matahari tenggelam. Langit menguning. Tangannya pun kian hari kian mengerut. Pandangannya pun memburam, sudah tak sejelas dulu. Tubuhnya kian membungkuk. Waktu, membawanya ke batas ujung senja. Menghantarkannya ke masa tua renta. Eva Sasmita, kehilangan masa jayanya, kini Ia terlunta-lunta dengan tubuh dan pikirannya yang rapuh.
Biar pun semua keluarganya, anak dan cucunya selalu ada untuk menjaganya dan tak pernah membiarkannya sendirian. Itu tetap tak cukup, Eva tetap merasa kesepian dan sendirian. Ia telah kehilangan cahaya dirinya yang dulu. Masa tua membuatnya merasa terkucilkan. Kegiatannya pun terbatas, karena fisik dan mentalnya yang kian melemah.
Eva hanya menghabiskan sisa hidupnya di tempat tidur dan taman belakang rumahnya dengan kursi roda. Membuatnya memiliki banyak sekali waktu untuk merenung dan mengenang. Seperti saat ini, Ia sedang menikmati waktunya di taman belakang rumah. Eva duduk di kursi roda, menikmati angin sore yang menyapa tubuh rentanya.
Burung-burung gereja beterbangan di langit sore yang kekuningan. Menemaninya yang tengah khusyuk beribadah merenung dan mengenang. Merenung dan mengenang, seperti sudah menjadi rutinitasnya sehari-hari. Beberapa tahun yang lalu, Eva pensiun dan kesehatannya pun kian memburuk dari hari ke hari, membuat kegiatannya terbatas.
Masalah kesehatan, membuatnya diharuskan memakai kursi roda. Pergerakan yang terbatas ini sangat menguji kekebalan mentalnya. Itulah sebabnya beberapa tahun ini, merenung dan mengenang menjadi kebiasaan dan rutinitas aman yang Ia lakukan. Dalam khusyuk, Ia merenungkan apa apa saja yang telah Ia lewati selama ini.
Eva melihat ke belakang, kilas balik kehidupannya dulu. Lantas merenungkan diri, apakah ada makna atas kehidupan yang selama ini dijalaninya? Eva merasa, Ia telah kehilangan banyak momen tentang dirinya sendiri dan dengan orang-orang di sekitarnya. Menikah muda di usia 19 tahun kemudian melahirkan empat orang anak, membuat waktunya hanya dihabiskan dengan mengurus anak-anak dan suaminya.
Sepuluh tahun hidup dan mengabdikan diri pada keluarga, tak serta merta membuat perjalanan hidupnya mulus. Menjelang sepuluh tahun pernikahan, suaminya berpulang ke pangkuan Tuhan. Meninggalkan Eva dengan ke empat orang anak mereka yang saat itu masih sangat kecil. Mulai dari sanalah, kehidupan penuh lika-liku Eva dimulai.
Eva mulai bekerja dan meninggalkan anak-anak di bawah
asuhan Ibunya. Prioritasnya pun berubah, Ia berfokus mencari nafkah demi kebutuhan
anak-anaknya. Secara alami, waktunya sebagai Ibu untuk anak-anaknya pun ikut
terkikis. Hubungan ibu dan anak itu sudah tak seerat dulu. Eva yang memang
sibuk bekerja dan anak-anak yang bertambah besar seiring waktu membuat mereka
memiliki aktivitasnya masing-masing.
Memasuki usia senja, Eva mulai menyesal kenapa dulu, Ia tidak membangun hubungan yang kuat, baik hubungan dengan dirinya sendiri, anak-anak, teman-teman dan semua orang di sekelilingnya. Meski terlambat, tapi kini Eva paham, kalau memiliki ikatan yang tulus dengan orang-orang di sekitar adalah salah satu hal yang terpenting dalam hidup.
Suatu saat nanti, jika dirinya tiada. Apakah anak-anaknya akan bersedih? walaupun anak-anaknya selama ini selalu memperhatikannya, tetap saja hubungan mereka tidak sedekat itu. Apakah mereka akan menangisi kepergiannya? Seperti apa Ia akan dikenang nantinya? mengingat, tak ada momen khusus yang terjalin diantara mereka.
Memang benar, ada banyak hal yang sulit dimengerti. Yang bisa kita lakukan hanyalah melakukan semua hal seimbang, sesuai takarnya, sesuai porsinya. Agar tak perlu ada yang disesali saat sesuatu itu berubah ataupun hilang nantinya.
***
spin off cerita ini :

Bisa jadi Eva adalah gambaran masa depan salah seorang di antara kita.
BalasHapusSebelum semuanya terjadi kita bisa melakukan tindakan preventif, agar bisa lebih bahagia di masa tua nanti.
Bener kak. Bisa jadi ini gmbaran. Krn banyak pelajaran yg bs dipetik dr kisah fiksi.
HapusMakasih buat penulis yg sudah menulis kish Eva. Inspiratif bgt
Semoga kisah fiksi ini bisa jadi pengingat kita, untuk selalu menjalin hubungan baik dengan sesama.
HapusAda hal-hal yang barangkali disesali oleh Eva, tetapi ia masih belum terlambat untuk memperbaiki hubungan tersebut. Kadang, kesepian mengajari seseorang untuk lebih memaknai hidup.
BalasHapusKita akan lebih mengerti arti hidup dan arti kehadiran orang-orang di sekitar kita (baik keluarga ataupun sahabat) ketika kesepian. Tiba-tiba kehadiran mereka akan begitu dirindukan.
HapusKarena itu sebagai seorang wanita setinggi apapun karir, tumbuh kembang anak adalah hal terpenting yang tidak boleh dilewatkan. Hal itulah yang membuat saya kembali melonggarkan idealisme saya dan cita-cita saya demi mengingat bahwa saya seorang wanita yang memang harus mengurus rumah tangga. Namun, bukan berarti kita tidak bisa berkarya, seperti ya mba sebutkan bahwa harus seimbang dan sesuai takarannya
BalasHapusBetul, sesuai porsinya, seimbang antara keluarga dan karier. Mengejar karier bukan berarti melalaikan kewajiban sebagai seorang ibu.
HapusSosok Eva memberi pelajaran bahwa jika orang yang penuh penyesalan, masa tuanya hanya akan dihabiskan dengan merenung dan mengenang.
BalasHapusSemoga kisah ini bisa dijadikan pengingat ya.
HapusEva adalah perwujudan manusia modern masa kini. Menyesal karena melakukan ini dan itu. Namun, tetap melakukan ini dan itu juga karena tidak ingin menyesal.
BalasHapusMelakukan sesuatu memang seharusnya dengan kemampuan masing-masing Karena yang berlebihan itu tidak baik.
BalasHapusAku langsung berkaca-kaca loh, hiks, merasa diiyain banget, gpp dirumah aja sekarang bareng anak-anak ,
BalasHapusAkhir-akhir ini sering sekali baca hal yang mirip seperti yang diceritakan. Jadi berpikir untuk benar-benar menghabiskan waktu bareng anak-anak meski sibuk kerja.
BalasHapusKuncinya adalah seimbang dan sesuai takaran. Ketika ini dipegang mudah-mudahan di masa tua tidsk seperti Eva yang dipenuhi penyesalan.
BalasHapus