Menelaah Ombak Pantai : Ada Rindu yang Terseret Ke dalamnya
Membuka kedua jendela, lalu memejamkan mata. Menikmati indahnya sapuan udara malam yang menerpa wajah cantiknya dan menerbangkan sebagian rambut indah panjang bergelombang nya. Setelah beberapa saat, kelopak mata indahnya terbuka lembut, memperhatikan keindahan pinggir pantai yang menenangkan hati. Kicauan burung membuat bibir semanis ceri nya tersenyum merekah sempurna.
Melalui jam yang berada di atas nakas, Ia tahu, sekarang waktunya untuk sahur. Kaki putih mulus nan jenjangnya berjalan menuruni anak tangga kayu rumahnya. Telinganya menangkap suara dari arah dapur, "Pasti itu bunda" monolog nya. Seorang wanita paruh baya yang mengenakan daster bunga-bunga berwarna pink putih terlihat dipandangannya.
Diperhatikannya kecekatan sang bunda dalam mengolah makanan. Tangannya gesit memasukkan bumbu-bumbu yang diperlukan ke dalam masakan. Tangannya bagai abang-abang nasgor yang lihai mengaduk-aduk nasi goreng dihadapannya. "Bunda kenapa gak jadi penjual nasgor aja? Marry jamin sih bakal laku abis jualannya." Celetuk Marry, mengagetkan sang bunda. "Bicara apa kamu ini? gausah gawur, masa ibu-ibu jualan nasgor." balas tajam sang bunda. "Loh? aku tu gak ngawur. Emangnya yang boleh jualan nasgor cuma abang-abang doang apa, ibu-ibu juga bisa." Balas asal si anak yang tak dihiraukan sang Bunda lagi.
Mengetahui keusilannya tak ditanggapi sang bunda lagi, gadis cantik itu memilih menyiapkan peralatan makan untuk sahur. Piring, gelas, sendok sudah siap ditata sedemikian rupa di meja makan. Tinggal menunggu sang bunda cuci tangan, acara makan sahur pun akan dilaksanakan. Dalam keheningan, dentingan sendok saling bersahutan dari piring sepasang ibu dan anak itu.
Keduanya terdiam. Menyelam pikiran masing-masing. Satu tahun yang lalu, suasana sahur di meja makan ini tidak sesepi sekarang. Paling tidak, ada celotehan seorang pria dewasa dan seorang pria mungil yang mengisi sahur mereka di meja makan ini. Tapi sekarang, hanya tinggal mereka berdua yang duduk di kursi dan termenung di meja makan.
Tak ada lagi celotehan riang pria kecil nan lucu. Tak ada lagi gurauan canggung pria dewasa. Setelah dahsyatnya ombak pantai membawa keduanya pada ketiadaan. Meninggalkan sepasang ibu dan kakak perempuan yang merindu, pada dua pria yang seharusnya masih menemani mereka di meja makan ini. Makan bersama, sahur bersama. Namun, nyatanya yang tersisa hanya mereka berdua.
Nyanyian ombak pantai di luar memecah lamunan mereka. Lantas mereka pun kembali menyibukkan diri dengan sepiring nasi goreng. Kata Panji Sakti, "Rindu adalah perjalanan mengurai waktu
Menjelma pertemuan demi pertemuan
Catatannya tertulis di langit malam
Di telaga dan di ujung daun itu."
Pastilah mereka akan bersyukur bila rindu- rindu yang selama ini bercokol di hati, bisa terbayarkan dengan sebuah pertemuan. Namun, nyatanya tidak. Tak ada pertemuan apapun, sebab yang tersisa hanyalah sebuah kenangan yang tak mungkin bisa terulang kembali.
"Rindu adalah perjalanan mengurai waktu
Menjelma pertemuan demi pertemuan
Catatannya tertulis di langit malam
Di telaga dan di ujung daun itu." Kenangannya terekam jelas di pertemuan langit malam, di telaga dan di ujung daun.

Komentar
Posting Komentar