MAGGIE : Penelope's Coffee Shop


 

Hari ini termasuk hari yang menyenangkan, dari pada beberapa hari belakangan. Bangun tidur tepat waktu, sarapan dengan sandwich tuna lezat buatan Ibu, berangkat sekolah tidak telat, semua pekerjaan rumah sudah siap, seragam sudah rapi, pelajaran di sekolah pun sangat menyenangkan. 



Tapi, yang benar-benar menyenangkan dari hari ini adalah janji temu bersama Penelope, di kedai kopi baru miliknya. Penelope sudah mengirim foto kedai kopi barunya dan tempatnya terlihat sangat nyaman dan klasik, Maggie tak sabar menunggu jemputan Penelope sore ini.



Penelope adalah adik dari Ibu Maggie, Ia baru saja menyelesaikan masa kuliahnya di University Of Toronto, Kanada. Ia baru-baru ini memilih kembali ke Indonesia dan memutuskan mendirikan kedai kopinya sendiri.  



Penelope adalah seorang gadis yang ceria dan berjiwa bebas. Penelope selalu menganggap kalau jarak umur antara dirinya dengan Maggie tidaklah terlalu jauh, sebab itu, Ia sangat tak suka kalau dipanggil dengan sebutan Tante ataupun Kakak, Ia hanya ingin dikenal sebagai Penelope. Penelope juga sangat populer di media sosial, Ia memiliki lebih dari satu juta pengikut di Instagram. Maggie sangat menyukainya. Penelope adalah sosok role model untuk Maggie. 



Mereka sangat dekat, Penelope bagaikan induk ayam dan Maggielah sosok anak ayam yang selalu mengikuti Penelope kemanapun Ia pergi. Keduanya sungguh tak terpisahkan, tentu saja itu sebelum Penelope harus pergi ke Kanada untuk studinya. Namun, meski begitu, hubungan keduanya masih tetap dekat karena mereka tak jarang berkomunikasi, baik dengan telepon maupun video call.



***



Ketika matahari hampir terbenam, sebuah mobil berwarna merah berkilau memasuki pekarangan rumah Maggie. Itu dia Penelope!! Maggie melangkah cepat keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga rumah dengan sedikit terburu-buru, yang membuatnya langsung disambut omelan sang Ibu saat telah sampai di undakan tangga terakhir.



Menghiraukan omelan Ibunya, Maggie dengan bersemangat berlari ke arah pintu dan menemukan seorang gadis cantik berambut coklat panjang dengan mengenakan celana jins pendek dan atasan cardigan berwarna ungu, sedang tersenyum dan merentangkan tangan kepadanya. Dengan cepat, Maggie melompat ke pelukan Penelope dan tertawa senang bersama. 



Selesai berpamitan pada Ibu, Maggie dan Penelope langsung melaju, menembus senja sore hari, menuju kedai kopi milik Penelope. Sore itu, mereka berkendara dengan atap mobil yang dibiarkan terbuka. Membuat rambut mereka berterbangan dihujam udara senja. Sore itu, seperti ada efek magis yang menghantarkan mereka pada arus kesenangan. 



***



Turun dari mobil, Maggie disambut bangunan klasik dan elegan, yang di dapannya bertuliskan Penelope's Coffee Shop. Memasuki area dalam, Maggie disuguhkan dengan penampakan area kedai kopi yang didesain klasik tapi nyaman, alunan musik jadul mengiringi setiap langkahnya menyusuri setiap sudut kedai. 



Lilin-lilin cantik disediakan di setiap meja. Harum aroma terapi yang menenangkan menguar di setiap sudut ruangan. Barang-barang antik dan jadul, yang Maggie taksir kalau saat ini, harganya sangat mahal itu, terpajang rapi di beberapa rak khusus. Lukisan-lukisan abstrak yang entah apa maknanya, yang tidak begitu dimengerti Maggie pun, terpajang di sebagian dinding kedai. 



Maggie duduk di salah satu kursi, sembari memperhatikan Penelope yang tengah meracik kopi buatannya. Wajahnya sangat serius, seakan tak bisa diganggu. Maggie menunggu dengan sabar sambil memperhatikan sekitar, ada sebuah cermin panjang di sudut ruangan dalam, yang tak Maggie mengerti, untuk apa cermin itu. Matanya kembali menjelajah, sampai akhirnya penglihatannya tertuju pada tiga buah lukisan yang sepertinya sudah agak tua. Lukisan tiga orang pria yang masing-masing saling bersebelahan itu menarik perhatiannya. 



Semua lukisan yang terdapat di ruangan ini bergambar abstrak. Namun, hanya tiga lukisan itulah yang bergambar jelas, manusia. Tak lama, Penelope selesai dengan kopi racikannya, lalu datang menghampiri Maggie. Maggie yang cerewet langsung saja bertanya, siapa gerangan tiga orang pria di masing-masing lukisan itu. 



Di hadapkan dengan pertanyaan tiba-tiba dari Maggie, Penelope hanya mengulum senyum, kemudian menjawab kalau tiga lukisan itu merupakan lukisan para filosof Yunani. Yang di tengah adalah Socrates sementara di sebelah kanannya adalah Plato dan di sebelah kirinya adalah Aristoteles. 



Penelope adalah seorang gadis cerdas peminat filsafat. Yang tentunya, tokoh-tokoh filsuf besar seperti Socrates, Plato dan Aristoteles sudah tidak asing lagi baginya. Karena itu pula, Ia menyimpan lukisan mereka di kedai kopi baru miliknya. 



Maggie yang penasaran, langsung menanyakan berbagai pertanyaan, yang hanya ditanggapi Penelope dengan senyum menyebalkan lalu berkata kalau benar-benar ingin tahu, Ia harus belajar filsafat dengan benar dulu. 



Maggie mencurutkan bibir dan mengerutkan wajahnya. Jawaban itu sama sekali tidak memuaskan. Padahal pertanyaannya sangat sederhana, kenapa harus berbelit-belit sendiri dan malah menyuruhnya belajar filsafat. Memang filsafat itu apa? Apakah sepenting itu? 



Walaupun sempat kesal, tapi Penelope berhasil mengalihkannya dan hari itu pun berakhir dengan menyenangkan. Kedai kopi milik Penelope memang senyaman dan semisterius itu. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ali and Nino: Symbols of Tragic and Undestined Love

Fenomena Hikikomori : Definisi sampai Cara Mengatasinya

Mengulik Lebih Dalam Karakter Rama : Tokoh Figuran di Novel PULANG Karya Leila S. Chudori