Bagaimana Pandemi Mempercepat Proses Perubahan Kepribadian Dalam Diri Saya
Sebagai bocah SMP saat itu, saya mengisi hari-hari hanya dengan bermain-main dan hanya tahu bersenang-senang saja. Sampai akhirnya, kami diberitahukan untuk diam di rumah saja selama dua Minggu. Sebagai bocah yang hanya tahu senang-senang saja dan agak pemalas, saat itu tentu saja respon saya dan teman-teman sangat bahagia. Akhirnya bisa lepas dari kegiatan sekolah yang melelahkan, selama dua Minggu.
Satu Minggu pertama, saya menjalani hari-hari dengan bahagia. Tak ada kegiatan pembelajaran apapun, seharian hanya diisi dengan menjelajah sosial media dan membaca buku. Dua Minggu terlewati, sempat ada perasaan jenuh dan takut karena kabar-kabar miring di sosial media yang saya lihat. Dari mulai penyebaran covid-19 pertama di Indonesia sampai kabar hilangnya banyak nyawa karena terinfeksi virus Covid-19.
Namun, perasaan khawatir dan takut itu tak lama terhapus juga. Kelewat senang karena bisa di rumah saja tanpa kegiatan belajar apapun. Kabar-kabar memprihatinkan dari TV dan sosial media saya abaikan begitu saja. Pandemi yang menyerang orang-orang di luaran sana tak ada hubungannya dengan saya, lagi pula dengan keadaan yang genting seperti ini seharusnya lebih memperhatikan diri sendiri dulu ketimbang orang lain.
Yang saya pikirkan saat itu, selama saya masih diam di dalam rumah, semua akan aman dan banyaknya nyawa yang berpulang, di luaran sana, tak ada hubungan apapun dengan saya, tak terlalu memusingkan hal-hal seperti itu juga, selama diri ini masih aman, yasudah. Begitulah kira-kira, gambaran pikiran egois dan tanpa prikemanusiaan, seorang remaja 13 tahun yang hanya tahu mementingkan dirinya sendiri.
Satu bulan, dua bulan, sampai lima bulan terlewati dengan perasaan jenuh yang kian hari kian semakin terasa. Berbulan-bulan tanpa berkomunikasi dan bertatap muka dengan manusia lainnya, selain keluarga sendiri. Perasaan ingin menjalani aktivitas sekolah dan bertemu teman-teman seperti biasa lagi, mulai datang. Mulai gelisah dan mempertanyakan, kapan pandemi ini akan usai?
Satu bulan menjelang bulan Ramadan, kami mulai yakin kalau pandemi akan selesai sebelum bulan Ramadan. Entah keyakinan dari mana, baik di sosial media maupun di lingkungan sekitar, mereka percaya kalau bulan Ramadan akan mengusir pandemi dan kami akan menjalani hari-hari berpuasa tanpa covid-19. Namun, saat bulan Ramadan tiba, nyatanya pandemi belum juga usai, kami terpaksa menjalani puasa dengan keterbatasan, yaitu di rumah saja.
Tak ada acara buka bersama dan sebagainya. Walau prediksi sudah salah, bulan Ramadan tak bisa mengusir bersih covid-19 tapi harapan orang-orang masih belum putus. Katanya, mungkin saja pandemi akan selesai sebelum hari lebaran. Namun, nyatanya harapan hanyalah harapan, pandemi tak kunjung usai bahkan sampai bulan Ramadan di tahun berikutnya.
Pada masa-masa terisolasi itu, saya tak banyak menyadari perubahan apapun dalam diri saya. Semuanya berjalan biasa saja, sangat biasa. Saya juga tidak begitu peduli, karena saya merasa kalau semuanya sama saja. Tak ada yang perlu diperhatikan. Waktu terus bergulir, saya yang bahkan tidak tahu apa apa saja yang sudah saya lakukan saat itu, tiba-tiba sudah harus ambil ijazah kelulusan. Mendadak semua terjadi begitu cepat.
Waktu terus berjalan, saya sudah memasuki sekolah baru. Semuanya terjadi begitu saja, meski merasa mental dan jiwa masih tertinggal di umur 14, ya jalani saja, mau bagaimana lagi. Dua tahun terkurung di rumah dan sudah terbiasa santai, saya perlu banyak waktu untuk kembali ke rutinitas lama, bersekolah. Bertemu teman-teman baru, yang sama sekali berbeda dengan teman-teman lama, sungguh menguras energi.
Waktu semakin terasa cepat, saya yang sudah tiba pada saat-saat terakhir masa SMA, bertemu kembali dengan teman-teman lama. Mereka menyoroti perubahan karakter saya, yang katanya sangat berbeda dengan yang dulu. Seorang ekstrovert yang tak bisa diam dan terbiasa menjahili teman-temannya, kini cenderung lebih pendiam. Tak banyak bicara dan aksi. Katanya, saya berubah banget. Saya yang tak memperhatikan perubahan diri sendiri agak heran saat salah seorang teman bilang kalau perubahan kepribadian saya terjadi semenjak pandemi.
Katanya, pandemi mengubah kepribadian saya. Namun, saya kira bukan sepenuhnya karena pandemi. Dari buku yang saya baca dan beberapa konten di media sosial yang saya lihat, seseorang pasti akan mengalami perubahan dalam kepribadian dan sifatnya seiring bertambahnya usia. Jadi, saya pikir perubahan kepribadian yang dialami ini memang siklus alamiah yang pasti akan terjadi di diri setiap orang. Hanya saja, dalam kasus saya, pandemilah yang mempercepat proses perubahan itu.

Komentar
Posting Komentar