Two Sides: Rich Man and Poor Man
Sebuah keseimbangan, membuat dunia berjalan. Sebuah keseimbangan, dimana terdapat pagi dan malam, terang dan gelap, kaya dan miskin. Sebuah kehidupan dengan keseimbangan di dalamnya, akan menciptakan keadilan dan ketentraman. Namun, apakah benar-benar begitu?
Menurut Addi Remo, tak ada keseimbangan yang menciptakan keadilan di dunia ini. Semua itu palsu. Bila ada yang beranggapan keseimbangan menciptakan keadilan, berarti orang itu telah keliru menjalani kehidupan. Atau bisa jadi orang yang beranggapan seperti itu adalah jenis manusia yang dari lahir sudah berlimpah kekayaan. Jenis manusia yang hanya menjalani hidup nyaman dan mudah. Tanpa pernah tahu rasanya diperbudak manusia lain hanya untuk bisa bersekolah. Tanpa pernah tahu rasanya memungut sampah botol hanya demi sesuap nasi. Tanpa pernah merasakan berjuang yang sebenar-benarnya berjuang demi sebuah kehidupan yang lebih baik.
Addi Abercio Geino beranggapan bahwa keseimbangan menciptakan keadilan itu benar adanya. Buktinya bumi terus beputar, menciptakan sinar terang matahari bagi seluruh manusia dan bumi. Bulan pun bersinar di tengah kegelapan, menuntun para manusia berjalan di malam hari, dan itulah kesimbangan yang menciptakan keadilan. Menurutnya, orang-orang yang beranggapan tidak ada keseimbangan yang menciptakan keadilan adalah orang-orang yang selama hidupnya melarat dirantai kemiskinan, manusia pemalas yang tak punya usaha dan hanya bisa menggonggong ketidakadilan.
***
Menurut Addi Remo, keadilan itu saat orang-orang yang bernasib seperti dirinya sudah tak ada lagi di dunia ini. Orang-orang yang dipeluk kemiskinan dan ketiidak beruntungan sepanjang hidupnya. Bukan keadilan namanya kalau masih ada manusia yang kelaparan dan pengangguran. Sementara di sisi lain, ada orang-orang beruntung yang diberi kenyamanan sejak lahir. Bukanlah keadilan namanya jika hanya sekelompok orang tertentu saja yang merasakan kenyamanan dan kebercukupan, sementara manusia lainnya hanya bisa berharap dan berdoa diberi kehidupan yang lebih baik dengan tubuh lelahnya yang digunakan banting tulang siang dan malam walau tahu, yang dihasilkan tidak seberapa.
Addi Remo, sudah cukup merasakan pahit manisnya kehidupan. Ia rasa, takkan sanggup lagi jika harus diberi “ujian” yang entah sudah keberapa kali menghanyutkannya. Seperti saat ini, kabar buruk menyapa indera pendengarannya. Katanya, akan ada pengurangan karyawan besar-besaran di pabrik sabun, tempatnya bekerja. Para karyawan lainnya heboh dan cemas, kemana lagi mereka akan menggantungkan nasib, bila harus dipecat dari pabrik, yang walaupun gajinya tak seberapa, setidaknya masih ada tempat untuk mereka bekerja dan menggantungkan nasib lewat pekerjaan ini.
Sementara Addi Remo sendiri, Ia sudah lelah menerka-nerka dan berharap pada sesuatu yang Ia sendiri paham, tak bisa dikendalikan. Sepak terjang kehidupan melaratnya menjadi buruh di pabrik sabun membuatnya pasrah. Kalau dipecat memangnya kenapa? Toh memang sedari awal bukan pekerjaan ini yang Ia harapkan. Addi Remo adalah sesosok pria dengan latar belakang keluarga yang sederhana, atau bisa dikatakan miskin. Kehidupannya sedari kecil tidak mudah. Namun, dengan kecerdasannya membuat Ia bisa mengenyam pendidikan sampai lulus s1, lewat program-program beasiswa.
Kerberhasilan dan prestasi-prestasinya ada berkat kegigihannya merubah nasib. Saat Ia masih duduk dibangku SMA, ada sebuah motivasi dari seorang guru kimia favoritnya, katanya begini “belajarlah hingga kecerdasan kau dapatkan. Bila sudah punya kecerdasan, kesuksesan bukan lagi sebuah angan-angan”. Untuk Addi Remo beberapa tahun yang lalu, Ia menganggap kata-kata gurunya itu sebagai panduan hidup yang menuntunnya ke sebuah perubahan hidup yang lebih baik. Namun, untuk Addi Remo yang sekarang, Ia hanya menganggap kata-kata itu bagai omong kosong belaka. Addi Remo tak butuh lagi kata-kata seperti itu. Kata-kata yang naif dan penuh semangat yang nyatanya, tak bisa merubah nasibnya sama sekali.
Addi Remo bersama kecintaannya terhadap kimia, berhasil membawanya masuk ke perguruan tinggi negri yang cukup bergengsi dengan jurusan kimia murni. Menjadi mahasiswa yang berprestasi dengan lulus hanya dalam kurun waktu 3,5 tahun beserta sisipan title cumlaude. Berharap setelah lulus bisa bekerja di labolaturium kimia, ditemani rumus-rumus kimia, gelas-gelas kimia dsb. Namun, kenyataan menghancurkan segala harapan di hatinya. Tidak ada jas lab ataupun ruangan lab kimia, nyatanya Ia hanya bisa puas dengan menjadi buruh pabrik sabun, dengan gaji tak seberapa, miris.
***
“Indonesia 2024 adalah awal baru untuk era modern di perusahaan kita, dengan strategi transformasi digital yang mulai dari sekarang akan menjadi PR penting untuk kita semua disini.”
“Yang harus anda semua pahami di sini, transformasi digital itu cakupannya luas, bukan hanya memerlukan teknologi canggih terbaru saja, sumber daya manusia juga merupakan salah satu aspek penting dalam transformasi digital. Apa anda semua sudah siap dengan perubahan dan inovasi? Apa anda semua bisa menerimanya dengan sepenuh hati? Apa anda semua siap bekerjasama membangun strategi transformasi digital?” Pertanyaan yang diucapkan dengan lantang, penuh kewibawaan, ketegasan dan sedikit menuntut itu langsung melingkupi seluruh isi ruangan.
Dia Addi Abercio Geino, seorang CEO, muda, cerdas dan rupawan. Kehidupannya sempurna. Keluarga yang lebih dari berkecukupan. Jenjang pendidikan yang luar biasa, dengan predikat lulusan terbaik di University Of Melbourne, Australia.
Seorang pria muda dan rupawan dengan penampilan rapih sekaligus hot dengan kedua lengan kemeja putih gading yang digulung sampai siku dengan kedua tangan kekarnya yang disilangkan ke depan dada, terlihat begitu menawan dari sisi manapun Ia dipandang. Meeting berakhir. Si tampan Addi Abercio Geino yang tak suka membuang waktu pun langsung melesat menuju restoran, tempatnya biasa lunch.
***
Ada sebuah perbedaan yang terlihat amat jelas, bagai langit dan bumi. Yaitu antara buruh dengan kaum borjuis. Salah satu kenyataan yang sangat dibenci Addi Remo. Namun, tak dapat Ia elak sekalipun.
Tak sesuai dengan dugaannya, Addi Remo tak masuk ke salah satu list karyawan yang “dibersihkan” di pabrik sabun, tempatnya bekerja. Nyatanya, Addi Remo tetap menjadi seorang buruh, komoditas, produk, yang dipatok harga murah tiap bulannya. Tak ada yang bisa Addi Remo lakukan untuk ini, Ia paham, meski tak mau, Addi Remo tetap membutuhkan pekerjaannya sebagai buruh dan menggantungkan nasib disana.

Komentar
Posting Komentar