TUJUH BELAS TANPA PERAYAAN


 


Gerak semu bumi, mengajarkan saya bahwa bukan takdir yang akan menjemput dan mengelilingi kita, melainkan takdirlah yang harus dijemput dan membiarkan kita secara alamiah berputar melilinginya. Jemputlah takdir yang kau inginkan di masa depan dengan apa apa yang sedang kau kerjakan sekarang. 


Memang benar, takdir selalu menjadi misteri. Entah masa depan seperti apa yang akan menyambut kita nanti. Entah akan sesuai harapan atau tidak. Bisa jadi, rencana-rencana besar dalam benak selama ini, hanyalah rekayasa pikiran. Bisa jadi, rencana-rencana yang tersusun rapih ini malah akan melebihi ekspetasi dan memenuhi hati. Bisa jadi. Bisa jadi.


Saat matahari nampak lebih tinggi di langit. Saat itu pula kita menyelami hari tanpa tidur dan tanpa malam hari. Hari yang panjang. Hari terpanjang. Hari yang melelahkan. Hari yang tak ada habisnya. Hari yang mengerikan. Hari tanpa malam dan harapan. Tidak ada yang bisa dirayakan. Semua mahluk, termasuk saya bersembunyi di tengah kesepian. Matahari berhenti. Musim pun berganti. Nurani pun mati. Iklim pun berubah di seluruh bagian bumi. Langkahku pun kontan terhenti, sebab tak ada yang bisa dirayakan di sini.


Langkah-langkah kecil yang berjalan menuju titik pusat, kian hari kian sulit. Sementara telapak kaki, masih berpijak pada titik gelap 3. Masih banyak gelap-gelap dan terang-terang yang harus di lewati. Titik gelap 1, titik gelap 2.  Titik terang 1,  titik terang 2. Hingga puncaknya, titik pusat. Yang terbiasa sunyi kepadaNya, kini mulai bisa merayu-rayu dalam sujudnya. Mulai muncul percik-percik harapan di setiap doanya. Tak tahu malu memang, tapi apa dayanya.  


Tujuh belas dengan beban di pundak dan pikiran. Tujuh belas dengan carut marut kehidupan yang mulai bisa diartikan. Tujuh belas yang tanpa perayaan. Karena, tujuh belas bukan suatu pencapaian, melainkan sebuah takdir baru yang mesti bisa dipertanggungjawabkan. Tujuh belas bukan sesuatu untuk dirayakan. Maka, dengan segenap hati, tidak akan ada perayaan.


Meneruskan langkah dengan mata yang merangkul kecerdasan, seakan nampak penuh keinginan dan harapan. Bersandar pada ideologi dan kata hati. Mencoba merampas delusi dan racun pikiran yang kian menguasai. Berusaha, yang sebaik-baiknya berusaha. Mengontrol apa yang bisa dikontrol. Katanya, usaha tidak akan menghianati hasil, katanya. 


Seorang remaja naif mengerat mimpi-mimpi. Mencoba mengais harapan-harapan yang menggenang. Untuk masa depan yang masih menjadi misteri. Belajar, belajar dan belajar. Demi memuluskan rencana besar yang dinanti-nanti. Mungkin memang tak mudah, di tengah serba serbi kehidupan masa kini yang katanya, apa apa sulit. Untuk masa depan yang tak pernah pasti akan seperti apa terjadi, tolong berkawanlah sedikit. Semesta, tolong restui. Keluargaku, tolong mengerti.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ali and Nino: Symbols of Tragic and Undestined Love

Fenomena Hikikomori : Definisi sampai Cara Mengatasinya

Mengulik Lebih Dalam Karakter Rama : Tokoh Figuran di Novel PULANG Karya Leila S. Chudori