Suara Perempuan

 



Women's March Jakarta, tahun ini mengusung tema "SUDAHI BUNGKAM, LAWAN!" Aksi ini bertujuan untuk menyuarakan suara-suara perempuan, para kaum rentan dan minoritas yang selama ini dibungkam dalam berbagai aspek. 


Mengutip dari laman Wikipedia, Women's March Jakarta adalah sebuah gerakan yang diadakan untuk merayakan Hari Perempuan Internasional tahun 2017 oleh sejumlah kelompok aktifis perempuan untuk bersatu menuntut adanya perubahan.


Mengutip dari laman liputan6.com, aksi Women's March Jakarta ini menuntut 9 tuntutan rakyat, diantaranya :

  1. Meningkatkan keterwakilan politik perempuan dengan membuka dan memudahkan akses perempuan dan kelompok marginal, rentan dan minoritas lainnya untuk berpartisipasi dalam politik.
  2. Segera mengesahkan seluruh kebijakan yang mendukung penghapusan kekerasan, diskriminasi, stigma, represi atau dampak buruk program pembangunan terhadap perempuan.
  3. Mencabut dan/atau membatalkan kebijakan diskriminatif terhadap perempuan dan kelompok marginal, rentan dan minoritas lainnya baik di tingkat lokal maupun nasional.
  4. Menghentikan praktik-praktik berbahaya (harmful practices) terhadap perempuan, anak perempuan, dan kelompok minoritas gender dan seksual.
  5. Mendorong kurikulum pendidikan yang komprehensif, adil gender dan inklusif, termasuk melalui jaminan bagi anak perempuan untuk mendapatkan hak atas pendidikan tanpa diskriminasi berdasarkan orientasi seksual, identitas gender, ekspresi gender, karakteristik seks, ras, suku, agama, kepercayaan, status kesehatan (fisik dan psikis), status sosial, dan lainnya; serta memajukan pendidikan, pemberdayaan dan akses yang inklusif bagi anak-anak perempuan dengan disabilitas, anak dengan HIV/AIDS, anak narapidana, dan anak pengguna napza.
  6. Mendesak Pemerintah Indonesia untuk melindungi perempuan, kelompok minoritas,rentan dan marginal.
  7. Memastikan berjalannya perlindungan sosial yang komprehensif, adil gender dan inklusif.
  8. Menuntut Pemerintah untuk segera menyelesaikan kasus pelanggaran HAM masa lalu secara berkeadilan dan berpusat pada pemenuhan hak-hak korban.
  9. Mendorong pemerintah sebagai chairperson ASEAN 2023 untuk turut aktif dalam penyelesaian konflik di wilayah ASEAN atau Asia Tenggara dan memberikan perlindungan pada para pencari suaka atau pengungsi.


Aksi Women's March Jakarta yang bertujuan menyuarakan tuntutan atas nama perempuan, kaum rentan dan minoritas ini mendapat respon yang berbeda-beda dari kalangan masyarakat, khususnya para netizen Indonesia yang turut berkomentar atas aksi ini. 


Ada yang menganggap aksi Women's March Jakarta ini hanya aksi kebarat-baratan dan liberal yang hanyalah panggung untuk mendapatkan validasi masyarakat. Perlu diketahui, aksi ini pertama diselenggarakan di Amerika Serikat pada tahun 2017. Itulah sebabnya, ada yang beranggapan kalau aksi Women's March Jakarta ini hanya ajang ikut-ikutan demi sebuah validasi. 


Ada pula sekelompok para feminis yang mendukung penuh aksi ini, dengan harapan akan masa depan dan lingkungan yang aman untuk para perempuan, kaum rentan dan minoritas. Sehingga mereka tak merasa tersisihkan lagi dari lingkungan dan masyarakat. 




Dalam berjalannya aksi, gerakan Women's March Jakarta ini menyuarakan segala keresahan dan harapan mereka melalui sebuah poster. Nah, poster inilah yang menjadi salah satu penyebab aksi Women's March Jakarta ini dianggap liberal karena poster yang diangkat dalam aksi ini kebanyakan menggunakan bahasa Inggris. 




Respon para netizen Indonesia saat melihat momen Women's March Jakarta melalui sebuah foto, mereka mengaku seperti melihat demo yang dilakukan di negara-negara Amerika Latin daripada di Indonesia, dari mulai poster-poster yang berbahasa asing sampai cara berpakaian yang tak luput disorot para netizen. 


Aksi Women's March Jakarta pada 20 Mei kemarin ini memancing diskusi para netizen Indonesia di sebuah akun Instagram (saya tak bisa menyebutkan nama akunnya karena alasan privasi). Diskusi online di forum Instagram itu merembet ke gaya pakaian yang dianggap netizen kurang pantas. Menyuarakan hak perempuan tentu saja boleh, tapi jangan lupa juga kalau Indonesia adalah negara beragama yang memiliki norma, tak bisa asal berpakaian dan berbicara, tulis sebuah akun (tak bisa saya sebutkan akunnya). 


Menurut saya sendiri, gerakan menyuarakan tuntutan dengan nama Women's March Jakarta ini tak ada salahnya untuk dilakukan. Bagaimanapun, itu adalah hak pribadi setiap manusia untuk merasakan "aman" dalam berinteraksi di lingkungan masyarakat. Hak setiap manusia untuk berekspresi dengan tubuh dan gaya pakaiannya selama tak menyalahi norma dalam masyarakat, seperti halnya pepatah "Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung tinggi" .

Komentar

  1. Sudahi bungkam, lawan! Kata2nya menohok kak, cuma mungkin di awal kalimat bisa dijelaskan women march itu apa kak? Sebagai pengantar singkat artikel. Karna saya sebagai pembaca yg tidak tau tentang women march ini menjadi bertanya apa itu women march....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener kak. Aku juga pas baca ga langsung ngerti krn awam bgt dg topik ini.

      Hapus
  2. Saya pun melihat aksi women march, kok gak sesuai dengan norma yang berlaku di Indonesia.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, makannya banyak sekali pro kontra dari netizen. Satu sisi bagus untuk menegakkan emansipasi wanita tapi satu sisi lain juga mengkhawatirkan karena rasanya makin ke sini, tak jarang oknum-oknum yang menuntut hak tapi menyalahi norma bermasyarakat dan beragama.

      Hapus
  3. Menurut saya, kalo melihat aksi² kaum feminis itu aneh, mereka ingin bebas, dihargai, dan disetarakan dengan kaum lelaki tetapi aksi mereka justru seolah merendahkan diri sendiri, bahkan mengundang syahwat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang bukan hak kita untuk melarang, memang benar kalau tubuh dan cara berpakaian mereka itu hak mereka. Tetapi balik lagi "dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung tinggi" di Indonesia, tidak dinormalisasikan cara berpakaian yang minim dan mengundang syahwat, masyarakat masih punya norma. Banyak cara untuk mencintai diri dan yang pasti, bukan dengan aksi merendahkan diri.

      Hapus
  4. Kaum feminis boleh berekspresi. Namun, tidak berarti di luar itu tidak boleh berekspresi juga dan menanggapi.
    Pro-kontra akan selalu ada. Tinggal bagaimana menyikapinya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harus pintar-pintar dalam menyikapi y, Kak

      Hapus
  5. Perempuan zaman sekarang memang sudah berani menyuarakan suara-suara nya , karena dengan itu mereka bisa meluapkan isi hati mereka

    BalasHapus
  6. Terlepas dari pro kontra yang terjadi, saya berharap kaum perempuan di negeri diberi ruang aman oleh negara. Beragam kasus kekerasan hingga pelecehan seksual yang kerapkali terjadi di mana pun dan kapan pun menjadi mengingat kita bersama, kalau negara masih belum menjadi ruang yang paling aman bagi perempuan.

    BalasHapus
  7. Saya melihat satu gambar lelaki yang mengangkat poster tulis tangan tentang pembelaannya pada gender pria. Ia suarakan untuk tidak menganggap semua pria sama dan tidak bisa mengontrol nafsu. Ini bagus. Jarang-jarang ada pria yang ikut women's march.

    BalasHapus
  8. Suka bagian akhirnya, ya bener menyuarakan suara perempuan tetap dengan cara yang baik, karena perempuan itu sangat berharga

    BalasHapus
  9. Emansifasi jangan sampe kebablasan. Adat dan norma ketimuran tempat kita berpijak harus tetap dijunjung

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ali and Nino: Symbols of Tragic and Undestined Love

Fenomena Hikikomori : Definisi sampai Cara Mengatasinya

Mengulik Lebih Dalam Karakter Rama : Tokoh Figuran di Novel PULANG Karya Leila S. Chudori