Sebuah Biografi : Buya Hamka
Prof. DR. H. Abdul Malik Karim Amrullah atau yang dikenal sebagai Buya Hamka merupakan sosok teladan bagi banyak orang. Buya Hamka lahir pada tanggal 17 Februari 1908, beliau lahir di Nagari Sungai Batang, Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Sosoknya yang menjadi teladan dan dihormati banyak orang, ternyata memiliki perjalanan kehidupan yang sangat luar biasa. Dari mulai lahir di masa pergerakan, tumbuh di lingkungan yang kaya akan paham-paham agama sehingga membuat Buya Hamka menjadi pribadi yang bermatabat dan religius dalam menjalani dan memaknai sebuah kehidupan. Namun, tetap rendah hati dan jaga diri atas semua yang beliau capai dan hasilkan.
Buya Hamka lahir pada masa pergerakan, yang membuatnya sudah tak asing lagi dengan perdiskusian dan perdebatan keras para kaum tua dengan para kaum muda, mengenai anggapan perihal agama dan keyakinan. Buya hamka tumbuh menjadi anak berusia 10 tahun dengan menyaksikan pergerakan ayahnya selama menyebarkan paham-paham agama. Waktu terus berjalan dan Buya Hamka terus tumbuh menjadi seorang remaja berusia 16 tahun. Di saat itu pula, untuk pertama kalinya, Buya Hamka menginjakkan kaki di tanah Jawa, tepatnya di Yogyakarta pada akhir tahun 1924. Di Yogyakarta pulalah Buya Hamka mendapatkan berbagai ilmu baru mengenai pergerakan politik Islam saat itu.
Kurang lebih satu tahun kemudian, pada Juli 1925, Buya Hamka kembali ke Padang Panjang dan ikut berpartisipasi dalam pendirian Tabligh Muhammadiyah yang berlokasi di rumah ayahnya, tepatnya di Gatangan Padang Panjang. Tiga tahun berlalu, Buya Hamka yang saat itu masih berusia 19 tahun, membawa diri menuju Mekkah. Sungguh luar biasa perjalanan kehidupan penuh makna Buya Hamka ini, masih berusia belasan tapi sudah menginjakkan kaki di Mekkah. Beliau menetap di Mekkah selama 7 bulan lamanya. Dua tahun kemudian, yaitu pada tanggal 5 April 1929, Buya Hamka menikah dengan seorang gadis bernama Siti Raham. Buya Hamka dan Siti Raham sama sama menikah di usia yang cukup muda, saat itu Buya Hamka berusia 21 tahun sedangkan istrinya, Siti Raham 15 tahun.
Bekerja sebagai pegawai kementrian agama golongan F pada tahun 1950 merupakan awalan karier seorang Buya Hamka. Beliau memiliki tugas sebagai pengajar di beberapa Universitas Islam. Pada tahun yang sama, Buya Hamka kembali bertandang ke tanah suci untuk yang ke dua kalinya menunaikan ibadah Haji. Di waktu berikutnya, Beliau juga berkunjung ke beberapa negara Arab yang dalam kunjungannya, beliau menghasilkan beberapa buku yang berisi kisah perjalanannya, beberapa buku diantaranya seperti Mandi Cahaya Di Tanah Suci, Di Lembah Sungai Nil Dan Di Tepi Sungai Dajlah adalah karya-karyanya selama beliau berkunjung ke negara-negara Arab.
Buya Hamka memiliki pengaruh dan memegang peranan penting dalam pergerakan organisasi Muhammadiyah. Karier dan jabatan Buya Hamka di Muhammadiyah dari tahun ke tahun semakin melejit dan meningkat. Hingga pada tahun 1953, Buya Hamka terpilih menjadi anggota pemimpin pusat Muhammadiyah melalui kongres Muhammadiyah yang ke-32. Martabat kepemimpinan Buya Hamka menuntunnya untuk duduk di kursi kepemimpinan pusat Muhammadiyah pada tahun-tahun berikutnya. Berperan aktif di Muhammadiyah membuat Buya Hamka akhirnya menjadi anggota DPR Konstituante. Dalam perjalanan kariernya, pernah satu waktu Buya Hamka bertemu dengan para pemuka Islam di Mesir, beliau dengan segala kebajikannya menyampaikan pidato yang berisi tentang bangkitnya organisasi-organisasi Islam modern di Indonesia.
Buya Hamka baru mengalihkan kegiatan berpolitiknya pada tahun 1960 dan memilih untuk berfokus sepenuhnya pada kegiatan Dakwah Islamiyyah. Walaupun sudah tidak lagi menjadi anggota DPR dan berfokus untuk dakwah, Buya Hamka tetap menjadi pemimpin pusat Muhammadiyah. Sampai akhirnya, pada tahun 1971 saat keadaan tubuh dan kesehatannya sudah tidak sebaik dulu, beliau mulai menghendaki agar tidak dicalonkan lagi menjadi pemimpin pusat Muhammadiyah.
Buya Hamka, seorang teladan yang memperjuangkan paham-paham agama. Buya Hamka, seorang yang kebajikannya diabadikan lewat karya-karyanya yang luar biasa. Barangkali, memang diri ini masih terlalu jauh dari segala kebajikan dan tauladani. Barangkali, memang diri ini tak jauh-jauh dari yang namanya berbuat dosa dan hilaf. Namun, dengan membaca kisah-kisah perjalanan hidup Buya Hamka yang luar biasa, membuat saya sekiranya sadar dan berbenah diri. Banyak karya-karyanya yang berupa buku, menyajikan pandangan tentang sebuah kehidupan yang tentunya selaras dengan syariat Islam. Maka dari itu, pemikiran cerdas dari Buya Hamka membuat ideologi sempit saya menjadi agak renggang. Menurut saya, pandangan dan cara berpikir cerdas yang selaras dengan syariat Islam dari Buya Hamka sangat patut dijadikan teladan.
Referensi dan Sumber : Buku "Pribadi dan
Martabat Buya Hamka"
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar