Resensi Film : Death's Roulette
Judul Film : Death's Roulette
Producer Film : Manolo Cardona, Mariana Zubillaga, Julie Cuartas Varela
Sutradara Film : Manolo Cardona
Pemain Film : Maribel Verdu, Manolo Cardona, Adriana Paz
Durasi Film : 1 jam 34 menit
Penulis Naskah : Gavo Amiel, Frank Ariza, dan Julieta Steinberg
Produksi Film : 11:11 Films dan Viacom CBS Internasional Studios.
Terbangun di sebuah rumah mewah, di antah berantah. Itulah yang dialami 7 orang asing ini. Tak ada hujan, tak ada angin, mereka menemukan diri mereka terikat di sebuah ruangan. Salah satu diantara mereka mencoba melepaskan diri dari ikatan, Simon namanya. Ia lalu membantu membuka ikatan beberapa orang lainnya. Mereka semua bingung dan bertanya-tanya, kenapa mereka bisa berada di tempat itu. Simon beranggapan bahwa mereka memiliki kesamaan, itu sebabnya mereka semua terjebak bersama. Namun, tak ada yang tahu, ada kesamaan apa diantara mereka bertujuh.
Selain Simon yang berprofesi sebagai polisi, ada pula Armandon yang bekerja sebagai dokter ahli bedah, Theresa seorang pramugari, seorang kakek tua pensiunan, Jose dan 1 keluarga yang terdiri dari ayah (Esteban), ibu (Martha) dan anak (Lupe). Tak butuh waktu lama, sebuah pesan secara mengejutkan muncul dan mereka mulai menyadari bahwa mereka telah terjebak dalam sebuah permainan yang membahayakan nyawa. Mereka tak kuasa melakukan apapun tuk melawan atupun menentang, pilihannya hanya ikut bermain atau mati. Permainan gila dimulai dengan waktu 60 menit untuk memilih salah seorang yang ada di sana untuk mati. Korban pertama adalah si Kakek tua, Jose.
Korban pertama sudah tumbang, tak lama sebuah pintu terbuka lebar, seakan mengundang mereka untuk memasukinya. Sebuah ruangan yang cukup mewah tapi agak gelap temaram menyambut mereka. Alunan musik dan pernak-pernik mainan menghiasi ruangan itu. Siapa yang mengira, di ruangan itu pulalah mereka mulai mendapatkan petunjuk kenapa mereka bisa ada di sana dan menjalani permainan yang gila itu. Rupanya, mereka semua terhubung dengan seorang pria bernama Pablo Vega. Tentu saja "terhubung" yang saya maksud di sini bukan sesuatu yang baik. Kebenaran dan kenyataan pun terungkap, satu demi satu. Dari mulai kecelakaan ibu dari Pablo Vega, kematian Ibunya dan juga masa lalu ibunya.
Satu demi satu dari mereka semua akhirnya mati mengenaskan akibat dari "Pablo Vega" yang akhirnya menampakkan sosok aslinya, yang selama ini bersembunyi dibalik nama lain. Sampai akhirnya hanya tersisa empat orang saja. Kelakukan bejat dan tak pantas Esteban kepada putrinya sendiri, Lupe akhirnya terkuak. Esteban akhirnya mati tertembak oleh sosok Pablo Vega. Sementara istrinya, Martha menjalani "bantuan" dari sosok Pablo Vega, sebuah "bantuan" yang memang pantas Ia dapatkan. Kemudian, adegan terakhir memperlihatkan dua punggung, yang diyakini sebagai punggung Pablo Vega dan Lupe.
Film yang tidak direncanakan akan saya tonton, tapi ternyata sangat seru dan worth it untuk ditonton. Saya menonton film Death's Roulette ini secara spontan di rumah teman, awalnya kami gak ada rencana apapun buat nonton, teman saya yang tiba-tiba sudah sedia laptop di pangkuannya langsung meminta saya ikut nonton, yang kemudian saya tahu judulnya adalah Death's Roulette. Adegan di menit pertama pada film ini, yang menampakkan sebuah Mansion di tengah-tengah bukit, diatas laut, cukup membuat saya terkesima. Mansion yang dipadukan dengan sinematografi Luis Enrique Carrión, sangat elok dan memanjakan mata.
Menurut saya, kelebihan film ini juga salah satunya, ada pada akting para aktrisnya. Contohnya saja Adriana Paz yang memerankan sosok pramugari bernama Theresa, pecandu amfetamin. Ia memerankan sosok Theresa dengan sangat baik. Gelagat-gelagat seorang pecandu obat-obatan yang sedang sakau, diperankan dengan baik oleh Adriana Paz.
Hanya saja, adegan menjelang akhir yang mengungkapkan sosok "Pablo Vega" yang ternyata selama ini menyamar dibalik nama lain dan bergabung dengan keenam orang lainnya, sangat mudah ditebak. Jika menonton tiap adegan dengan rinci, anda pasti tahu siapa yang sering memimpin dan mengarahkan mereka semua ke tempat-tempat tertentu. Sangat disayangkan, plot twist yang tidak mengejutkan.
Film ini saya rekomendasikan untuk orang-orang yang memang menyukai film bergenre thriller dan untuk orang-orang yang mempunyai kesabaran tingkat tinggi dan kontrol kebosanan tingkat tinggi pula. Jangan nonton film ini kalau kalian tipe gak sabaran dan mudah bosan ya.
Sampai jumpa, selamat malam Minggu.
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar