Norah Vincent: Eksperimen 18 Bulan Menjadi Laki-laki

Delapan belas bulan jadi laki-laki? Kok bisa? Bisa dong! Norah Vincent buktinya. Diketahui bahwa Norah Vincent merupakan seorang feminis yang memiliki pandangan tersendiri terhadap transeksual. Norah Vincent juga berkarier di bidang kepenulisan, beberapa bukunya yang telah terbit seperti The Instant Intellectual (1998), How to Sound Smart (2000), Self Made Man (2006), Voluntary Madness (2008), Thy Neighbor (2012), dan Adeline (2015), buku-buku tersebut merupakan karya-karya Norah Vincent selama masa hidupnya. 




Berawal dari rasa penasaran Norah Vincent terhadap kehidupan sebagai laki-laki, membuatnya melakukan eksperimen yang menurut saya cukup tidak lazim, yaitu dengan menjadi laki-laki. Norah Vincent merencanakan eksperimennnya dengan matang, dari mulai memotong rambutnya seperti laki-laki, dengan gaya cepak. Norah bahkan berlatih angkat beban agar otot dada dan punggungnya terbentuk. Diketahui, Norah juga memasang penis prostetik yang terhubung dengan sabuk yang Ia kenakan. Demi memuluskan berjalannya eksperimen, Norah mengubah suaranya menjadi persis laki-laki, dengan suara yang berat dan dalam, melalui berbulan-bulan latihan vocal di Juilliard School, Manhattan. 


Menjalani eksperimen sebagai laki-laki, Norah Vincent menghadapi berbagai tantangan dan pengalaman yang benar-benar baru. Dari seorang perempuan tulen (walaupun dia telah menyatakan dirinya lesbian) kemudian menjalani kehidupan sebagai lelaki, seperti memasuki sebuah dunia yang seluruhnya berbeda. Delapan belas bulan menekuni eksperimen yang tidak lazim ini sangat menyadarkannya bahwa kehidupan sebagai perempuan sesungguhnya jauh lebih baik daripada kehidupan sebagai laki-laki. 


Saya ingat, ada banyak perempuan yang terkadang menyerukan bahwa kehidupan sebagai laki-laki itu lebih baik. Namun, nyatanya menjadi laki-laki pun tak seindah yang terlihat dan yang selama ini sebagian perempuan bayangkan. Kehidupan sebagai laki-laki dan kehidupan sebagai perempuan bagai langit dan bumi, tak bisa disamakan. Keduanya memiliki rintangannya sendiri. Norah Vincent yang telah menjalani kehidupan sebagai laki-laki selama 18 bulan bahkan menyatakan bahwa terlahir sebagai perempuan adalah sebuah privilege. 


Melalui eksperimen Norah Vincent sebagai laki-laki, menurutnya laki-laki juga butuh mengekspresikan diri mereka, mengeluarkan segala perasaan yang mereka rasakan tanpa penghakiman orang lain dan dengan rasa bebas. Seperti halnya perempuan yang bisa bebas mengekspresikan diri, menangis, tertawa, lelah dsb. Dari pengalaman eksperimen Norah Vincent ini, semoga kita dapat menjadi manusia yang bersyukur atas gender yang kita dapatkan sedari lahir. Jangan mudah menjustifikasi sesuatu itu lebih baik atau lebih mudah atau lebih sulit, karena setiap gender baik laki-laki maupun perempuan pasti memiliki rintangan dan tantangannya sendiri dalam menjalani kehidupan. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ali and Nino: Symbols of Tragic and Undestined Love

Fenomena Hikikomori : Definisi sampai Cara Mengatasinya

Mengulik Lebih Dalam Karakter Rama : Tokoh Figuran di Novel PULANG Karya Leila S. Chudori