Menjelajah FIKSI: KEMBALI PULANG
"Dan alasan kedua hujan turun ke bumi adalah untuk menghembuskan rasa rindu di hati para manusia"
– Alit Susanto
Senyum indahnya mengembang sempurna saat membaca untaian kata berbalut rindu di layar ponsel. Bola mata berwarna coklat terang nan jernih itu kemudian beralih memperhatikan rintik hujan yang berjatuhan. Seolah mereka sepakat untuk menyampaikan rindu pada seseorang di seberang sana, melalui hujan. Hatinya tak sabar menunggu esok, tuk tuntaskan rasa rindu.
Pikirannya menerawang. Mengingat kembali kilas memori yang hinggap di pikirannya. Lantas Ia khusyuk, merenungkan apa saja yang sudah Ia lewati. Berbagai macam hal hebat hingga sesak yang Ia dapat di kota pelajar ini. Bagaimana langkahnya menuntunnya ke sini. Meninggalkan kota kelahiran, dan orang-orang di dalamnya.
Hingga, tibalah Ia pada hari ini. Dimana Ia harus pulang. Kembali ke kota kembang, tempatnya dilahirkan. Kota yang sejuk dan penuh kenangan. Dengan abaya berwarna broken white dan hijab senada. Ia langkahkan kaki keluar dari stasiun kereta. Matanya kemudian bersibobrok dengan mata lain, yang sangat Ia kenali. Dengan senyum mengembang, seorang wanita yang cukup berumur berdiri di tengah kerumunan orang berlalu lalang. Matanya memanas. Tuhan, betapa dia sangat merindukan ibunya.
Tinggal di kota lain untuk berkuliah membuatnya harus pergi meninggalkan sang ibu. Rindu tak pernah pudar untuk ibunya. Dan di bulan Ramadan ini, Ia pulang. Bisa Ia rasakan pelukan hangat nan ringkih tubuh ibu melingkupinya. Kemudian, dikecupnya kedua pipi sang ibu, tak lupa tangan yang makin kasar dan keriput itu Ia cium dengan khidmatnya.
Perjalanan menuju rumah, dihabiskan untuk berbincang dengan sang ibu. Sesekali Ia edarkan pandangannya ke luar. Memperhatikan jalanan kota dengan seksama, hingga matanya menangkap bangunan tinggi Masjid Raya Bandung. Tiga kubah masjid menambah kesan megah. Ada satu kubah besar di atap tengah, dan pada atap kanan dan kiri terdapat masing-masing satu kubah. Subhanallah.
Di sepanjang perjalanan, Ia menyadari. Ternyata bukan orang-orangnya saja yang Ia rindukan di kota ini. Tapi juga suasananya. Bangku-bangku di sekitar Jl.Braga, kubah Masjid Raya Bandung, pitimos, rumput hijau di alun-alun, ahh rindunya.
Setelah menempuh waktu, kurang lebih 20 menit di perjalanan. Akhirnya Ia bisa melihat kembali bangunan tua tapi kokoh khas Belanda, yang menjadi tempat huniannya sedari kecil. Disambut suara azan magrib saat turun dari mobil, digandengnya tangan keriput ibu, dan masuk ke halaman rumah. Udara malam yang sejuk nan asri khas kota Bandung menyapu permukaan wajah dan menerbangkan sebagian hijab panjangnya.
Masuk ke dalam rumah. Tiba-tiba dirinya disambut pelukan kencang dari arah depan, yang nyaris membuat tubuhnya limbung. Si kecil berkuncir dua lah pelakunya. "Teteh, adek kangen!" Katanya dengan suara yang lucu. Sontak tangannya bergerak, mengusap sayang kepala sang adik. "Teteh juga kangen sama adek" Balasnya dengan senyum bahagia.
"Sudah dulu pelukannya, sekarang batalkan puasa dulu, sudah azan magrib ini" Seru suara lantang dari arah ruang makan. Lantas mereka bertiga pun berjalan ke arah sana. Bisa di lihat, ayah yang sudah duduk di kursi kayu meja makan. Ayah terlihat lebih kurus dari terakhir kali mereka bertemu. Kemudian tangannya bergerak menyalami Ayah lalu segera mendudukkan diri di kursi. Lantas, mereka pun berbuka puasa bersama.
Sembari berbuka, keluarga itu juga bercakap-cakap. Seperti, apa kabar? Selama di Jogja baik-baik saja kan? Pendidikanmu di sana gimana? Dan pembicaraan lain khas orang yang pulang kampung. Mereka terlihat bahagia menyambut dirinya dan Ia cukup senang akan hal itu.
Setelah dirasa cukup, kemudian Ia berpamitan ke kamar untuk salat. Naik ke lantai atas dan menemukan pintu berwarna ungu muda. Lantas didorong lah pintu itu ke dalam. Kamar serba ungu dengan pernak-pernik lucu menyambutnya. Kurang lebih sudah satu tahun kamar ini tak ditempati, tapi masih terlihat bersih tanpa debu. Sepertinya ibu yang membersihkan.
Pertama kalinya pergi ke kota lain dan meninggalkan keluarga. Ternyata seperti ini rasanya pulang kampung. Disambut pelukan sayang ibu. Disambut perhatian hangat ayah. Disambut ocehan menggemaskan adik.
Setelah menjalani 3 Minggu berpuasa sendirian. Akhirnya bisa pulang ke rumah yang hangatnya tak berubah. Rindu rindu-rindu kini sudah terbayarkan. Akan Ia gunakan dengan baik waktu berkumpul bersama mereka disini, di rumah, yang hangatnya tak pernah berubah.

Komentar
Posting Komentar