Menjelajah FIKSI : Masih Adakah Harapan di Rumah yang Dingin ini?

 



Ibu menangis di pelataran dapur, sambil mengiris-iris separuh nadinya, lalu memasukkannya kedalam sup yang sedang dipanaskan. Ibu bilang, bahan-bahan di dapur sudah habis, jadi Ia berikan separuh nadinya ke dalam sup, agar tak terasa hambar saat kami memakannya. Aku menyuap sesendok sup tadi, rasa pahit air mata menyambut lidahku. Rupanya, kaldu di dalam sup itu telah tercampur dengan satu centong air mata Ibu. Ibu hidup melarat, sekarat di pelataran dapur. Menangisi nasibnya. Menyesali takdirnya.

 

Sedang Ayah terpenat-penat membanting pikirannya sendiri, yang entah ada apa di dalam sana. Belakangan, aku baru tahu, kalau Ayah sedang sibuk mendokrin pikirannya sendiri dengan chip otak yang teman-temannya berikan. Chip otak yang mengubah Ayah sepenuhnya. Teman-teman Ayah menanamkan ketidakpedulian Ayah terhadap kami, aku dan Ibuku. Beberapa waktu ini, ayah sangat setia kepada teman-temannya di bandingkan pada Ibu, apalagi aku. 


Di pikiran Ayah, sudah terdokrin ketidakpedulian untuk kami. Ia menjalani hari, seolah akan hidup selamanya. Ia menjalani kehidupannya dengan bahagia, tertawa dan tersenyum di hadapan teman-temannya. Namun, acuh tak acuh pada Tuhan dan keluarganya sendiri. Tak terhitung, sudah berapa lama Ayah tak terlihat menyecap air wudu dan empuknya sajadah. Tak seperti kepada teman-temannya, yang mendapat kesetiannya. Tuhan dan keluarganya Ia tinggalkan begitu saja.


Setiap kali Ayah pulang, Ibu akan berhenti menangis dan menyisakan masakannya, yang sudah mendingin di atas meja makan lalu bersembunyi di sudut ruangan, sembari memeluk dirinya sendiri. Sementara Ayah yang tidak peduli, hanya akan makan masakan yang sudah dingin tadi lalu pergi tidur, tanpa menghiraukan anak dan istri. Sedang aku, yang tak punya cukup nyali untuk mempertanyakan hubungan keduanya pun hanya diam. Mencoba mengais-ngais potongan praduga-praduga yang selama ini bercokol di hati.


Pagiku, selalu ditemani kepergian Ayah yang terburu-buru dan tangisan Ibu yang mulai bercucuran deras. Setiap pagi, aku selalu menemukan raut wajah mendung Ibu, kantung matanya yang hitam kian parah dari hari ke hari. Di bandingkan Ayah, Ibu malah terlihat 10 tahun lebih tua dari pada usia aslinya. 


Mungkin Ibu lelah dengan kehidupannya. Menyesal mempunyai suami yang tak paham caranya berjalan beriringan. Padahal, demi bersama Ayah, Ibu harus memotong kedua kakinya lalu menyesuaikan ritme langkah kaki Ayah. Namun, rupanya Ayah sama sekali tak terkesan dengan sikap Ibu itu.  


Setiap kali ada kesempatan, aku ingin sekali merengkuh tubuh ringkih Ibu ke dalam pelukan, tapi sikapnya yang tertutup, seolah tak mengijinkanku berlari ke arahnya. Sebagaimana Ayah yang berubah, Ibu pun demikian. Ayah telah memusnahkan nurani dan empati Ibu. Membuatku sendirian di rumah dingin dan kering ini. Ibu menangis setiap hari. Ayah acuh tak acuh setiap hari. Harapanku pun sekarat setiap hari. Lantas, masihkah ada harapan di rumah yang dingin ini?



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ali and Nino: Symbols of Tragic and Undestined Love

Fenomena Hikikomori : Definisi sampai Cara Mengatasinya

Mengulik Lebih Dalam Karakter Rama : Tokoh Figuran di Novel PULANG Karya Leila S. Chudori