CERPEN: Nilai Sebuah Foto Keluarga

Keinginan sederhana seorang pemuda, yang sayangnya, tak bisa terwujud. "Aku sangat ingin memiliki sebuah foto keluarga. Foto yang dicetak besar, memakai pigura yang besar nan cantik, lalu memajangnya di ruang tamu rumah. Seperti halnya orang-orang yang memiliki keluarga." Ucapnya, dengan mata berbinar penuh harapan dan doa. Sinar matanya memancarkan kecerdasan dan keinginan.






Tidak ada yang istimewa darinya. Ia hanya seorang pemuda yang tidak diketahui asal-usulnya, yang menumpang di panti asuhan selama hidupnya. Pemuda naif yang dengan polos menginginkan sebuah foto keluarga. Padahal Ia sendiri tahu, kalau dirinya sebatang kara, tanpa keluarga yang jelas. Selama ini, Ia hidup hanya berdasarkan belas kasihan Ibu panti. 



Tak pernah punya keinginan dan ambisi, untuk bisa bertahan hidup sampai hari ini saja, Ia sudah sangat bersyukur sekaligus takjub. Bersyukur dan takjub, baik pada dirinya sendiri yang sudah dengan tabah menjalani hari-hari maupun pada orang-orang di sekelilingnya, khususnya Ibu panti yang dengan kebaikan dan kemurahhatian mereka, sudah sudi membesarkan anak seperti dirinya. 



Suatu hari, ketika usianya sudah menginjak 17 tahun dan saatnya mengecap bangku sekolah menengah atas. Ia mengenal banyak orang-orang dan teman baru. Dari yang mulai latar belakang keluarganya biasa-biasa saja sampai yang luar biasa. Nongkrong dan main ke rumah teman, adalah rutinitas yang sudah biasa pemuda itu jalani. 



Salah satu temannya yang memiliki latar belakang keluarga yang cukup bergengsi, getol mengajak Ia dan teman-teman lainnya main ataupun hanya sekedar numpang tidur di rumahnya. Yang menurutnya, dengan luas dan keindahan yang ada di sana, lebih cocok dikatakan sebagai istana dari pada rumah. Seumur hidup, tak pernah ada tempat seindah dan semewah rumah temannya itu, yang pernah Ia lihat. 



Luas toilet di sana bahkan dua kali lipat lebih besar dari pada kamar di rumah pantinya, yang di dalam satu kamarnya bisa diisi 3-5 orang. Pemuda itu langsung paham bahwa kedudukan Ia dan temannya yang satu itu, bagai langit dan bumi. Sejenak, Ia agak minder dengan latar belakangnya, yang bukan siapa-siapa ini dan bahkan Ia tak tahu siapa dan di mana orang tuanya. 



Pemuda itu tak pernah merindukan orang tuanya. Ia bahkan merasa tak membutuhkan kedua orang tua kandungnya. Karena, ada atau tidaknya mereka, takkan mempengaruhi dirinya. Hidupnya selama 17 tahun ini adalah buktinya. Fakta bahwa Ia tetap menjalani hidup yang bahagia bersama saudara-saudara di panti, juga Ibu panti adalah fakta yang tak terelakkan. 



Pemuda itu mensyukuri hidupnya, dan merasa baik-baik saja selama ini. Sampai akhirnya, Ia berkunjung ke rumah temannya. Kemudian, menatap seisi ruang tamu yang begitu mewah dengan warna yang didominasi keemasan. Namun, bukan kemewahan yang menjadi perhatiannya, melainkan sebuah foto keluarga besar yang disimpan, tepat di dinding tengah ruangan.



Setiap anggota keluarga di foto itu tersenyum lebar. Setiap mata anggota keluarga di foto itu memancarkan kebahagiaan. Tangan mereka saling bertaut seolah tak ingin melepas satu sama lain. Begitu hangat dan harmonis. Pemuda itu tidak tahu, kalau melihat foto keluarga orang lain, bisa sangat membahagiakan dan sedih di waktu yang bersamaan. 



Untuk Pemuda yang tidak diketahui asal-usulnya dan telah hidup di panti asuhan, seperti dirinya, berangan-angan memiliki sebuah foto keluarga, tentunya adalah suatu kebodohan. Ia tak tahu siapa dan di mana keluarga kandungnya. Ia pun tidak peduli dan tidak ingin tahu. Tapi, melihat foto keluarga temannya ini, membuat dirinya merasa iri. Ia juga ingin memiliki foto keluarga. Meski tak mungkin, dia tetap ingin. 
 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ali and Nino: Symbols of Tragic and Undestined Love

Fenomena Hikikomori : Definisi sampai Cara Mengatasinya

Mengulik Lebih Dalam Karakter Rama : Tokoh Figuran di Novel PULANG Karya Leila S. Chudori