CERNAK: Bu, Jangan Bekerja Bu!
Udara pagi yang sejuk nan asri masuk melalui celah-celah jendela kamar, menyapa sesosok tubuh mungil yang masih terbungkus selimut lembut, bergambar 2 karakter kartun asal negri Malaysia, Upin dan Ipin. Sayangnya, rayuan udara pagi kala itu, belum bisa mengalahkan rasa pulas sosok mungil tadi.
Matanya yang besar, disertai bulu mata panjang itu masih setia memejam,
menghiraukan rayuan udara pagi yang sedari tadi seolah memangilnya agar lekas
bangun. Udara pagi harus menahan kecemburuannya sebab, alih-alih bangun karena
rayuannya, sosok mungil tadi nyatanya lebih terlena dengan empuknya kasur,
lembutnya selimut serta indahnya dunia mimpi yang sedang Ia sambangi.
Namun, bukannya menyerah, udara pagi malah menghantarkan angin untuk membangunkan sosok mungil tadi. Angin pagi menyapa tubuh mungill yang sedang meringkuk dengan lilitan selimut, di atas kasur. Angin menerbangkan sebagian rambut agak keritingnya yang menutupi dahi, membuat tubuh mungil itu makin merapatkan diri dengan selimut yang melilitnya.
Satu menit, lima menit
dan 10 menit sudah berlalu, tetapi sesosok mungil menggemaskan tadi masih saja
berbetah-betah menggulung diri sendiri ke pelukan kasur empuk, ke dekapan
lilitan selimut lembut dan kedalam dunia mimpi yang indah, ciptaannya sendiri. Sama sekali enggan membuka mata besar menggemaskannya.
Dreet... dreett...
Suara pintu terbuka,
Seorang wanita berparas anggun dan keibuan muncul setelah membuka pintu yang memiliki cat berwarna biru tosca tadi. Matanya menatap sekeliling kamar anak yang serba berwarna biru itu, tak lama penglihatannya pun berlabuh pada sosok mungil nan menggemaskan yang sedang bergelung di atas selimut. Tanpa bisa di tahan, bibirnya tersenyum gemas, melihat anak satu-satunya yang sedang tertidur begitu pulas.
Duduk di tepi kasur, tangannya mencoba menggapai sang anak lalu mengelus kepala atasnya dengan sayang sebelum mendekatkan wajah ke telinga anaknya yang menggemaskan itu, lalu berbisik dengan lembut, “Noran sayang, bangun yuk! Sudah pagi loh, Noran harus bersiap-siap ke sekolah.” Bisik ibu dengan penuh kasih sayang serta kehati-hatian.
Ajaib! Hanya dengan bisikan lembut sang ibu, sosok kecil
menggemaskan tadi langsung membuka matanya, bangun dari tidurnya. Tentu kita tak bisa melupakan begitu saja
usaha udara dan angin pagi yang sedari tadi berusaha keras membangunkan sosok
mungil ini. Namun, tak membuahkan hasil yang diinginkan, yang mana malah
membuatnya makin pulas tertidur bukan bangun.
Anak manis menggemaskan, bernama Noran tadi langsung
merentangkan tangannya, seolah meminta sang ibu untuk memeluknya. Ibu yang
gemas, langsung membawa tubuh mungil itu kedekapannya yang hangat. Mereka berdua
berpelukan. Sepasang ibu dan anak berpelukan di pagi hari dengan dihiasi sorot
matahari pagi, yang hangatnya seolah membungkus keduanya. Sangat indah
dipandang.
***
Si menggemaskan Noran sudah rapi menggunakan seragam olahraga sekolahnya. Di bahunya yang kecil, Ia menyampirkan tas mungilnya lalu di lehernya tergantung botol minuman berwarna merah. Hari ini, di sekolahnya ada kegiatan study wisata ke kebun binatang. Noran sangat antusias dengan kegiatan ini, karena katanya di sana akan ada banyak sekali hewan-hewan dari yang lucu sampai menyeramkan. Bibir mungilnya terus saja bersenandung senang, di dalam pikirannya hanya terbayang sosok jerapah dan zebra yang sangat ingin Ia lihat.
Dari buku yang ibunya
beri, Noran tahu kalau jerapah itu memiliki nama ilmiah Giraffa camelopardalis. Jerapah sangat tinggi, katanya itu agar menyesuaikan dengan makanan jerapah,
yang biasanya terletak di atas pohon, jerapah juga pemakan tumbuhan. Kata ibunya,
jerapah haruslah makan dengan banyak karena tubuhnya yang tinggi dan besar. Noran
juga tidak mau kalah, Noran juga mau tinggi, maka dari itulah, Ia selalu
memakan sayuran yang sehat dengan banyak.
“Ibu! Ayo bu, nanti Noran telat ke kebun binatangnya.” Seru Noran agak keras, kepada ibunya yang masih di dalam rumah. Ibu berjalan terpogoh-pogoh dari dalam karena seruan agak keras Noran. Menghela napas, lalu ibu berkata, “Noran sayang, maaf ya hari ini ibu tidak bisa temani Noran ke kebun binatang, ibu harus bekerja. Noran tenang saja, nenek yang akan temani Noran di sana.” Kata ibu dengan hati-hati.
Mendengkus cemberut, kenapa selalu seperti ini. Ibunya sibuk sepanjang hari. Menemaninya ke kebun binatang saja ibunya tak ada bisa. Padahal, ini kan acara ibu dan anak di sekolahnya, harusnya ibu yang menemaninya bukan nenek. Teman-temannya pun pasti datang bersama ibu mereka, kenapa Noran tidak bisa. Matanya mulai berkaca-kaca. Kedua tangannya mengepal, hidung mungilnya memerah. Noran menahan tangisnya.
“Ibu! Jangan kerja bu!” Gugu Noran, tak bisa ditahan. “Ibu temani Noran, jangan kerja bu!” Katanya lagi, setengah menjerit. Mata ibu memanas. Ya Tuhan, jika boleh memilih, ibu pun lebih ingin menghabiskan waktunya bersama Noran, tapi apa boleh buat, tuntutan pekerjaan memaksanya.
"Noran, mengertilah Nak, Ibu tak bisa absen dari pekerjaan ibu. Hari minggu nanti, ibu janji akan luangkan waktu ke kebun binatang bersama Noran. Sekarang perginya sama nenek dulu ya." Balas ibu menenangkan, walau hatinya sendiri pun masih berat, tak tega. Mata Noran memerah, Ia marah tetapi masih menurut dengan pergi ke kebun binatang hari ini, bersama nenek.
***
Bersama nenek, Noran pulang ke rumah sekitar jam 12.00 lalu tidur siang sampai jam 14.00. Saat terbangun, Noran langsung turun ke bawah mengambil air. Namun, pemandangan yang Ia lihat di sofa ruang keluarga menghentikan langkahnya. Di sana, ibunya tengah tertidur. Di pandangi wajah kelelahan sang ibu, lama kelamaan Noran jadi merasa bersalah karena sudah marah pada ibunya.
Kata nenek, Ia tak boleh marah berlebihan pada ibunya, karena semua yang ibu lakukan adalah demi kebaikan Noran sendiri. Tersadar, benar juga, kalau ibu tidak bekerja, Noran tidak bisa jajan, jalan-jalan dan membeli mainan. Noran menyudahi kegiatan memandangi wajah ibunya dengan memberi satu kecupan di pipi sang ibu, yang tengah tertidur.
Mimpi indah, ibu sayang.
***
Hari ini hari Minggu, saatnya ibu menepati janjinya untuk pergi ke kebun binatang bersama Noran. Noran sangat bahagia. Bibir mungilnya tersenyum tanpa henti sedari tadi. Tangannya tak pernah lepas dari genggaman sang ibu. Mereka dengan riang menghabiskan akhir pekan bersama, di kebun binatang. Sesuai janji ibu pada Noran. Noran menyayangi ibunya, sangat, dan kegiatan yang Ia dan ibunya lakukan di akhir pekan ini menambah rasa bahagia dan sayangnya pada sang ibu. Sayang selalu ibu.
.jpg)
Komentar
Posting Komentar