Catatan Hari Ini : Benarkah Tak Ada Masa Depan Menjanjikan Untuk Generasi Masa Kini?

Kantung waktu berputar begitu cepat dari tahun ke tahun dan tanpa sadar, saya sudah hampir sampai pada awal bab baru dalam kehidupan saya. Sekiranya, ada satu tahun dari sekarang kehidupan saya akan benar-benar dimulai. Berbagai rencana dan keinginan sudah saya susun rapih untuk satu tahun yang akan datang, saya kira itu semua sudah cukup, tapi ternyata tidak sesederhana itu.




Pelajaran seni, selalu menjadi pelajaran yang paling mengasikkan. Tak perlu menghafalkan nama-nama penyakit dan gejala-gelanya. Tak perlu menghafalkan kosakata-kosakata bahasa Jepang, yang hanya dilihat saja sudah bikin pusing. Tak harus menghafal rumus-rumus kimia yang tak ada habisnya itu. Tak perlu mengukur jarak terang pusat ke terang 1. Tak perlu berhadapan dengan angka-angka polinomial atau bangun lingkaran yang lama-lama bikin pusing tujuh kekeling. Pelajaran seni itu selalu santai tapi mengasikkan apapun materinya. Seni lukis, seni musik, seni tari, seni rupa, tak pernah buat bosan sama sekali.


Seperti hari ini, kami sedang belajar seni musik di aula seni sekolah. Guru menugaskan kami membuat sebuah band yang beranggotakan 6 siswa setiap bandnya. 6 orang siswa itu terdiri dari 2 siswa vokalis, 2 siswa pianis, 1 siswa gitaris dan 1 siswa perkusi. Kebetulan saya mendapat posisi sebagai pianis, sebenarnya saya agak khawatir karena terakhir kali saya memainkan piano itu sudah beberapa tahun yang lalu. Saya pernah mengikuti les piano selama kurang lebih 3 tahun, dari kelas 5 SD sampai 1 SMP. Tentu saja sejak saya kelas 1 SMP itu sudah cukup lama, saya harus bekerja keras kembali selama dua minggu, untuk menghafal not-not piano dari lagu yang akan saya dan teman-teman tampilkan.


Beruntung, kehadiran teman-teman saya sedikitnya, cukup mengobati rasa cemas yang sedari tadi mendekap. Akhirnya pelajaran seni musik di aula seni itu berakhir dengan sedikit rasa lega di hati saya. Tak butuh waktu lama, kelas pun berganti. Kali ini, adalah waktunya kelas BK (bimbingan konseling). Kelas BK selalu menjadi kelas yang saya dan teman-teman (kalau bisa) hindari. Kelas BK setiap minggunya rutin memberikan info terkait nilai dan jenjang masa depan kami. Di awal-awal sebenarnya saya tak ada masalah dengan nilai-nilai saya ataupun  untuk menentukan masa depan saya (seperti memilih univ/jurusan). Saya sudah memikirkan matang-matang akan kemana dan di bidang apa nantinya akan berkarier.


Namun, satu informasi yang guru BK sampaikan tadi pagi, cukup membuat saya merenungkan kembali pilihan dan rencana yang selama ini saya susun. Saya seolah mempertanyakan diri saya kembali atas semua pilihan dan rencana saya. Apakah pilihan saya sudah tepat? Apakah rencana saya akhirnya akan berjalan dengan baik? Mengingat, takkan ada yang tahu masa depan. Apa yang akan terjadi pada dunia 1-5 tahun lagi atau 5-10 tahun lagi, semua masih abu-abu dan saya saat ini hanya bisa merencanakan dan berusaha.


Guru saya menyampaikan kalau dulu ada satu profesi yang pekerjaannya menghidupkan lampu-lampu di pinggir jalan. Lampu-lampu di pinggir jalan itu tak dinyalakan otomatis serentak seperti sekarang, lampu di jalanan harus dihidupkan satu persatu oleh seorang pekerja. Namun, seiring bertambahnya tahun dan dunia semakin canggih, profesi itu tersingkirkan dan benar-benar hilang. Kemudian, guru saya bertanya dengan lantang, “apakah kalian memiliki cita-cita? Seandainya nanti, kalian dapat menggapai cita-cita dan bekerja sesuai minat dan cita-cita, apakah yakin  pekerjaan kalian takkan tersingkirkan oleh teknologi, yang kian hari kian canggih? Sudahkah kalian berfikir sampai sana?”


Saya terpana. Benar, bukan tidak mungkin, kelak pekerjaan yang saya impikan dan pekerjaan-pekerjaan lainnya akan tersingkirkan oleh teknologi dan AI. Setiap hari, teknologi semakin diperbaharui dan semakin canggih. Hal ini menguntungkan bagi umat manusia tetapi di saat yang bersamaan juga mengerikan. Lantas, harus bagaimanakah para generasi masa kini menyikapi hal ini? Kami, yang baru akan memulai langkah awal sebuah kehidupan, harus bagaimanakah? Benarkah sudah tak ada masa depan menjanjikan untuk generasi masa kini?












hanya sebuah catatan, isi pikiran dan sedikit keluh kesah. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ali and Nino: Symbols of Tragic and Undestined Love

Fenomena Hikikomori : Definisi sampai Cara Mengatasinya

Mengulik Lebih Dalam Karakter Rama : Tokoh Figuran di Novel PULANG Karya Leila S. Chudori